Selasa, 04 Maret 2014 09:25 WIB

Apa Dampak Minuman Berpemanis Buatan & Pengawet Untuk Tubuh Kita?

 Apa Dampak Minuman Berpemanis Buatan & Pengawet Untuk Tubuh Kita?

Di antara banyak pilihan produk minuman instan yang banyak tersedia saat ini, meski mempermudah memenuhi kebutuhan secara cepat, namun harus disiasati pola konsumsinya agar tidak menimbulkan efek negatif untuk tubuh. Sebagian besar dari minuman instan saat ini menggunakan pemanis buatan. Lalu bagaimana pola konsumsi yang tepat dari minuman tersebut agar tetap aman untuk tubuh?

Jawabannya, menurut pakar diet klinis Emilia E. Achmadi, MS, adalah jika minuman teh berpemanis buatan misalnya diminum satu kali saja, maka efek negatifnya tidak akan signifikan. Namun jika menjadi kebiasaan mengkonsumsi minuman the, kopi, soda dan sirup dengan gula buatan, efeknya akan seperti bola salju, semakin lama semakin banyak. Penggunaan dalam jangka panjanglah yang pantas dipertanyakan apakan akan mencetuskan penyakit seperti diabetes mellitus?

Pada dasarnya, dijelaskan Emilia beberapa waktu lalu di Jakarta, semua orang yang sudah memiliki kondisi "khusus" seperti gangguan kesehatan atau metabolism tubuh harus mengubah gaya hidupnya untuk menjalankan hidup normal, bukan mencari shortcut alias cara instan untuk sehat seperti mengonsumsi obat alternatif. Aktivitas fisik dan pemilihan pola makan menjadi penentunya. Untuk soal gula, usahakan mengonsumsi pemanis yang alami, misalnya dari jus buah tanpa ditambah gula, karena gulanya sudah cukup berasal dari buah.

Namun bukan berarti penyebab gangguan kesehatan seperti diabetes mellitus hanya gula saja. Gaya hidup lain seperti konsumsi alkohol, jarang berolahraga dan tak aktif secara fisik sehari-hari, serta jam tidur sangat mempengaruhi hormon tubuh, termasuk insulin. "Jika hanya satu faktor yang salah, dampak negatif konsumsi pemanis buatan lebih lama. Tapi kalau lebih dari satu faktor maka ini yang menyebabkan penderita penyakit kronis semakin lama semakin muda sekarang," kata Emilia.

Lebih lanjut lagi, batas konsumsi teh sendiri ditetapkan 2-3 gelas sehari sebenarnya tergantung dari orang yang meminumnya. Semakin aktif fisik, makanan lebih sehat dan teratur maka jeda untuk mengkonsumsi makanan dan minuman selain air putih jauh lebih fleksibel. Formula kebutuhan air putih untuk tubuh adalah berat badan dibagi angka 30, hasilnya harus dipenuhi dalam liter dan dikonsumi sedikit demi sedikit secara kontinyu. "Nggak ada sistem SKS –-sistem kebut semalam-- karena akan merusak lambung dan sebagian besar air akan dikeluarkan oleh sistem karena tubuh tidak bisa menyerap air dengan cepat," ujarnya.

Setiap makanan dan minuman dalam kemasan pasti ada aspek pengawetannya. Namun banyak yang sudah takut duluan dengan kata "pengawet" karena banyak yang menyalahgunakan, padahal sejak jaman dulu banyak juga sumber pengawet dari alam. Seperti gula dan garam misalnya, mengawetkan tanpa member efek negatif. Cara membedakannya, misalnya minuman teh instan dikonsumsi satu teguk, lalu diamkan selama 5-10 menit untuk merasakan apakah ada after taste-nya. "Kalau proses pengawetan yang digunakan alami, nggak pakai bahan kimia, maka rasa manisnya bukan after taste. Semua teh ada rasa bitter, tapi kalau bikin batuk dan ada sedikit rasa metal dan essence tertinggal, berarti gulanya membuat gatal dan buruk," paparnya.

Kunci menjaga kesehatan setelah mengkonsumsi berbagai minuman siap saji adalah dengan banyak minum air putih. Teh misalnya, memiliki komponen bukan air yang tidak membantu ginjal dalam mengeluarkan racunnya. Teh juga mengandung tannin yang harus dikeluarkan lewat ekskresi. Minuman cokelat, dan bir juga mengandung oksalat yang digabung dengan suplemen kalsium menimbulkan batu ginjal yang membuat fungsi ginjal terganggu. Apapun yang dikonsumsi harus selalu dibarengi dengan air putih. Jangan ada cairan lain yang mengambil alokasi air putih, Bahkan untuk konsumsi susu dua gelas sehari pun, jumlah air putih yang diminum harus tetap sama.

gatra.com

Sat

Apa | Dampak | Minuman | Berpemanis |

Copyright @2015