Kamis, 10 September 2015 11:08 WIB

El Nino Dan Kebakaran Lahan Dan Hutan

 El Nino dan Kebakaran Lahan dan Hutan
Syamsul Bahri, SE

By Syamsul Bahri, SE

(Conservationist di Jambi)

Kebakaran lahan dan hutan akibat El-Nino bukan peristiwa dadakan dan insidentil, yang seharusnya bisa diminimalkan dampaknya.

Status Darurat Asap telah ditetapkan untuk 3 kabupaten di Provinsi Jambi, yaitu Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, dan Tanjung Jabung Timur saat ini dalam menyikapi Bencana Asap serta Kebakaran Lahan dan Hutan. 

Peningkatan status ini dilakukan, karena meningkatnya potensi bencana asap, serta kebakaran lahan dan hutan ditandai dengan peningkatan jumlah hot spot di masing-masing kabupaten, terutama di lahan gambut dan hutan gambut yang terdapat di 3 kabupaten tersebut, sedangkan secara nasional daerah yang terparah di 66 kabupaten di lima provinsi yakni Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar dan Kalteng.

Pemicu dari darurat asap tersebut adalah gejala alam cuaca ekstrim El-Nino yang diperkirakan terjadi hingga November 2015 mendatang, yang dikhawatirkan akan meningkat secara terus menerus dan menhasilkan asap yang lebih pekat lagi.

Menrut Supari,M.Sc Analis di Kedeputian Klimatologi BMKG, bahwa  El-Nino merupakan suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut (sea surface temperature-SST) di samudra Pasifik sekitar equator (equatorial pacific) khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar pantai Peru). Karena lautan dan atmosfer adalah dua sistem yang saling terhubung, maka penyimpangan kondisi laut ini menyebabkan terjadinya penyimpangan pada kondisi atmosfer yang pada akhirnya berakibat pada terjadinya penyimpangan iklim.

Dalam kondisi normal, suhu permukaan laut di sekitar Indonesia (pasifik equator bagian barat) umumnya hangat dan karenanya proses penguapan mudah terjadi dan awan-awan hujan mudah terbentuk. Namun ketika fenomena El-Nino terjadi, saat suhu permukaan laut di pasifik equator bagian tengah dan timur menghangat, justru perairan sekitar Indonesia umumnya mengalami penurunan suhu (menyimpang dari biasanya). Akibatnya, terjadi perubahan pada peredaran masa udara yang berdampak pada berkurangnya pembentukan awan-awan hujan di Indonesia.

Fenomena El-Nino diamati dengan menganalisis data-data atmosfer dan kelautan yang terekam melalui weather buoy yaitu suatu alat perekam data atmosfer dan lautan yang bekerja otomatis dan ditempatkan di samudra. Di samudra pasifik, setidaknya saat ini terpasang lebih dari 50 buah buoy yang dipasang oleh lembaga penelitian atmosfer dan kelautan Amerika (National Oceanic and Atmospheric Administration-NOAA) sejak 1980-an. Dengan alat-alat inilah kita mendapatkan data suhu permukaan laut sehingga bisa melakukan pemantauan terhadap kemunculan fenomena El-Nino.

Disadari gejala El-Nino menjadi gejala tahunan yang terjadi setiap tahun, bukan gejala yang terjadi seketika dan incidentil, yaitu Proses perubahan suhu permukaaan laut yang biasanya dingin kemudian menghangat bisa memakan waktu dalam hitungan minggu hingga bulan, setiap tahunnya, melainkan sudah rutin terjadi semenjak tahun 2006.

Anggapan dari masyarakat dan beberapa pejabat di daerah masih menganggap kebakaran hutan, termasuk kebakaran hutan rawa gambut, masih sering dianggap sebagai suatu bencana alam, yang merupakan proses alami  belaka. Faktanya saat ini, upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran tersebut, hanya terbatas pada upaya pemadaman yang bersifat Insidentil. Bahkan menurut Saharjo (1999) Secara historis Kebakaran hutan lebih banyak disebabkan dari kegiatan manusia daripada faktor alam yaitu  mengatakan 99,9 persen kebakaran hutan/lahan oleh manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaiannya.

Bahwa diakui Propinsi Riau, Sumatera Selatan, Jambi dan Kalimanta Barat dan Kalimantan Tengah dan beberapa wilayah lainnya merupakan Propinsi yang paling tinggi memberi kontribusi asap yang mengganggu lingkungan dan dapat merugikan yang cukup besar terhadap ekonomi dan nama baik negara di dunia Internasional.

Dengan membandingan luasnya Wilayah daratan Indonesia mulai dari pergunungan, perbukitan, dataran dan pantai, 5 Wilayah Propinsi tersebut ternyata memiliki tingkat karawanan kebakaran hutan dan lahan yang cukup tinggi di Indonesia. Dan jika memperhatikan bentang alam dari ke 5 Propinsi tersebut, adalah kelima propinsi tersebut yang memiliki lahan/kawasan gambut yang terluas di Indonesia, disamping lahan/kawasan lainnya.

Faktor pengunaan dan pemanfaatan lahan di lahan gambut dan keluasan lahan gambut menjadi bagian dari fektor yang mendukung potensi kabakaran lahan dan hutan di Indonesia, terutama di wilayah Prioritas.

Tentunya gejala tahun ini bukan menjadi persoalan yang bersifat incidentil dan sekonyong-konyong, sebelum gejala El-Nino ini datang seyogyannya Pemerintah sudah mengantisipasi dampak negatif yang akan timbul, dan berusaha meminimalkan dampaknya.

Asap akibat dari kebakaran tahun 2015 dengan status siaga asap saat ini hampir sama kejadian pada tahun 1997 terjadi bencana kekeringan yang luas. Pada tahun itu, kasus kebakaran hutan di Indonesia menjadi perhatian internasional karena asapnya menyebar ke negara-negara tetangga. Kebakaran hutan yang melanda banyak kawasan di Pulau Sumatera dan Kalimantan saat itu, memang bukan disebabkan oleh fenomena El-Nino secara langsung. Namun kondisi udara kering dan sedikitnya curah hujan telah membuat api menjadi mudah berkobar dan merambat dan juga sulit dikendalikan. Di sisi lain, kekeringan dan kemarau panjang juga menyebabkan banyak wilayah sentra pertanian mengalami gagal panen karena distribusi curah hujan yang tidak memenuhi kebutuhan tanaman

Jika berdasarkan pengamatan lapangan sebagai bagian dari pengelola kawasan konservasi bersama dengan conservationist lainnya, kecenderungan sumber asap bersumber dari kebakaran di lahan gambut dan hutan gambut yang sudah diolah menjadi kebun monokulture yang banyak menyerap air, yang didukung dengan sistem kanalisasi.

Hutan-hutan gambut ini memainkan peranan penting sebagai tempat penyimpan  karbon,  konservasi  keanekaragaman  hayati,  dan  sebagai  pengatur hidrologi, juga berfungsi sebagai tempat pemuliaan untuk ikan-ikan yang dipasarkan di dalam negeri maupun untuk ekspor. 

Hutan/Lahan gambut tersebut banyak mengalami perubahan dengan cara direklamasi untuk dimanfaatkan  sebagai  lahan  perkebunan, apalagi dengan trend perkebunan Kelapa Sawit, beberapa Propinsi membuat Program sejuta sawit, sehingga tekanan terhadap lahan gambut menjadi tidak bisa terelakkan lagi. 

Lahan gambut dan/atau lahan basah secara ekosistem merupakan lahan yang digenangi oleh air secara terus menerus, dan sangat sulit untuk terbakar, karena gambut semua dalam kondisi basah dan sangat sulit untuk terjadi kebakaran, tetapi kerusakan terhadap ekosistem gambut akibat dari pengelolaan lahan gambut yang untuk kepentingan perkebunan, HTI dll, baik legal maupun yang illegal, yang mengabaikan ekologi gambut, dan membuat gambut tidak lagi dalam kondisi normal (lembab dan basah) dan tercabik-cabik melalui pembangunan kanalisasi dan parit.

Kerusakan ekosistem gambut tersebut diperkuat dengan munculnya fenomena cuaca ekstrim kering dari El-Nino setiap tahun membuat kondisi ekosistem gambut semakin rentan dan rapuh serta menjadikan lahan dan hutan gambut potensi yang sangat tinggi untuk terjadi kebakaran, bahkan dipekuat masih banyaknya masyarakat (petani dan perusahaan) yang memiliki kecenderungan untuk pembersihan dan pembukaan lahan dengan pola proses pembakaran, serta ketidak sengajaan membuang puntung rokok.

Kebakaran terjadi cenderung berada di bawah permukaan gambut yang sangat sulit untuk dipadamkan dengan menggunakan alat pemadaman kebakaran yang ada, diperkuat dengan sumber air yang relatif tidak ada, sehingga dari beberapa pemahaman diatas, sesungguhnya faktor utama kebakaran lahan dan hutan yang memberi kontribusi asap yang sangat mengganggu baik tahun 2015 atau tahun sebelumnya adalah (1)Rusaknya ekosistem hutan gambut, karena pemanfaatan lahan tersebut untuk kepentingan perkebunan, HTI dan lain-lain yang cenderung memakai pola monokluture serta didukung dengan kanalisasi yang mengabaikan ekologi gambut itu sendiri;(2) Pemanfaatan lahan gambut tidak sesuai dengan peruntukannya, baik budi daya, konservasi dan fungsi lindung lainnya; (3) Pola pembukaan dan pembersihan lahan yang masih menganut pola pembakaran yang dilakukan oleh masyarakat secara tidak terkendali baik petani maupun perusahaan, termasuk tidak sengaja dan/ atau sengaja  pembuangan puntung rokok; (4) Kebakaran cenderung terjadi dibawah permukaan, dengan sumber air yang sangat sulit dan pemadaman yang sangat sulit dengan menggunakan alat pemadaman kebakaran yang ada, yang menghasilkan asap yang cukup banyak.

Jelaslah kiranya, bahwa kerusakan ekosistem gambut, pola pembakaran yang masih dianut dalam membukan lahan dan hutan, serta didukung fenomena El-Nino berpengaruh kuat terjadinya kebakaran yang memproduksi asap yang pekat dan tebal, yang telah merugikan masyarakat baik ekonomi, maupun kesehatan bahkan kerugian politik.

Upaya Pemadaman   kebakaran   di   areal   gambut   dimana penulis menjadi bagaian dari upaya pemadaman tersebut menyadari sesungguhnya bahwa pemadaman sangat   sulit,   mahal   dan   dapat menyebabkan kerusakan ekologi dalam jangka panjang. 

Gambut terbakar diatas dan dibawah permukaan, dan karenaitu sulit untuk dipadamkan sehingga metode-metode pemadaman   kebakaran   yang  mungkin   diterapkan   juga   mahal, sehingga upaya yang lebih logis untuk jangka pendek dan menengah, disamping upaya pemadaman baik melalui pemadaman dengan menggunakan tenaga manusia, water bombing, rekayasa hujan buatan untuk jangka menengah dan jangak panjang adalah antara lain: (1) Mengembalikan dan memperbaiki ekosistem gambut yang telah rusak agar dapat berfungsi kembali dengan tehnologi yang tepat, dalam artian mencegah lahan gambut menjadi kering; (2) Mengkaji ulang terhadap program Sawitnisasi atau program perkebunan di lahan gambut, begitu juga pembangunan HTI baik rencana maupun yang sudah ada, serta pembangunan lainnya di lahan gambut yang cenderung akan merusak ekosistem gambut itu sendiri; (3) Mengkaji ulang kebijakkan pengolahan lahan gambut dengan pola kanalisasi, agar tepat guna untuk mempertahankan nilai kebasahan dan kebasaan dikawasan gambut dimusim kering. (4) Menginventarisir kawasan dan lahan gambut yang memiliki indikasi salah dalam pemanfaatannya; (5) Memperkuat Partisipasi masyarakat sekitar melalui fasilitasi Pembentukan PERATURAN DESA untuk mencegah kegiatan pertanian dan perkebunan dengan pola pembakaran, tentunya didukungan dengan PERDA; (6) Penegakan hukum yang adil berkeadilan baik kepada masyarakat atau perusahaan yang melakukan perbuatan pembakaran yang merugikan; (7)Pembekuan dan pencabutan izin perusahaan ternyata menjadi pelaku atau motivator untuk pembakaran lahan; (8) Menghentikan pemberian izin untuk pemanfaatan lahan gambut baik perkebunan, pertanian, pertambangan, Industri yang dikaji tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku (9) Penguatan ekonomi melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar kawasan/hutan gambut dengan pola yang bisa mempertahankan nilai ekosistem gambut itu sendiri.

Sehingga Kebakaran hutan dan lahan itu bukanlah “hanya” sebuah proses secara alami semata-mata dan tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang bencana biasa, namun kebakaran hutan dan lahan saat ini, lebih banyak dipengaruhi oleh faktor manusianya dan merupakan bencana yang bersifat “luar biasa” dan harus ada political will, tidak hanya untuk memadamkan, namun lebih komprehensif untuk mengkaji sebab atau faktor utama pembangunan yang cenderung menyebabkan terjadinya kebakaran hutan, terutama di wilayah Prioritas.

Diharapkan langkah strategis untuk meminimalkan dampak dari pengaruh cuaca ekstrim El-Nino yang akan hadir setiap tahunnya dapat menjadi langkah bersama terutama Pemerintah daerah dan Provinsi bersama dengan Pemerintah Pusat, karena persoalan asap dan kebakaran hutan sudah menembus dimensi regional bahkan Internasional sudah memasuki dimensi ekonomi dan politik Internasional. Semoga.

 

Editor : Wit


Copyright @2015