Sabtu, 16 April 2016 17:59 WIB

Pesona Jembatan Unik Dari Akar Beringin Di Wilayah Pesisir Selatan

 Pesona Jembatan Unik dari Akar Beringin di Wilayah Pesisir Selatan

Takjub karena keanehannya. Mungkin hal ini yang akan tersirat di pikiran pengunjung ketika melihat jembatan akar yang menyambungkan kedua wilayah di Nagari Puluik-puluik, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Sejuknya pohon akan memayungi Anda ketika memasuki wilayah Nagari Puluik-puluik. Dalam bahasa setempat, Nagari Puluik-puluik berarti desa puluik-puluik. Keramahan warga setempat selaku pengelola wisata pun akan menambah kehangatan saat berkunjung ke salah satu wisata favorit di Pesisir Selatan ini.

Kawsan wisata Jembatan Akar ini berada di Desa Puluik-puluik, Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan. Dapat ditempuh selama satu setengah jam perjalanan dari Bandara Internasional Minangkabau, Kota Padang. Tepatnya berjarak 70 kilometer dari pusat kota Padang.

Jika Anda ingin berkunjung ke Painan, Pesisir Selatan, tidak ada salahnya untuk singgah di kawasan wisata Jembatan Akar ini. Dari jalan utama tujuan Painan, hanya 30 menit menuju tempat tersebut. Ketika masih di jalan utama, sesaat setelah memasuki gerbang Pesisir Selatan, Anda dapat belok ke arah kecamatan Bayang Utara.

Sepanjang jalan yang berkelok-kelok tersebut, hamparan sawah yang menguning, menjulangnya bukit barisan dan barisan rumah-rumah penduduk sederhana akan mewarnai pengelihatan Anda. Tak terasa sampai di desa tersebut, pengunjung disapa ramah oleh beberapa penjaga gerbang wisata.

Untuk tiket masuk, pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp 5.000. Sementara untuk parkir mobil Rp 5.000 dan Rp 2.000 untuk motor. Pengunjung akan menuruni puluhan anak tangga. Terlihat dari atas beberapa gazebo siap menawarkan fasilitas bagi pengunjung, salah satunya warung makan.

Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 10 langkah dari tangga, pengunjung akan menemukan deretan pohon beringin besar, dengan usia puluhan bahkan ada yang ratusan tahun menurut warga sekitar. Di salah satu selanya terdapat akar panjang, membentuk satu jembatan yang menghubungkan dua wilayah dari Sungai Batang Bayang.

Jembatan tersebut benar-benar terbuat dari akar pohon yang saling membelit satu sama lain. Kekuatannya pun tak perlu diragukan, meskipun tua, pohon beringin tersebut terlihat sangat kokoh. Ketika saya naik bersama sembilan orang lainnya secara bersamaan, jembatan tersebut tidak terasa goyang.

“Sekarang sudah diperkuat dengan kawat, sejak 2015. Agar semakin kuat menopang orang, juga tahan banjir bandang,” ujar Armaini, Kabid Kepariwisataan Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Pemuda dan Olahraga Pesisir Selatan, saat ditemui di Pantai Cerocok, Jumat (15/4/2016).

Lilit demi lilit dilalui di atas jembatan sepanjang lebih dari 15 meter tersebut. Sungai yang alami dengan tali-temali yang rindang dari pohon beringin cukup menyejukan mata pengunjung yang menyeberanginya.

Selain pemandangan tersebut, ternyata pengunjung dapat berenang di aliran Sungai Batang Bayang yang tidak terlalu deras. Anak-anak sekitar kawasan ini pun berlompatan tanpa takut dari atas jembatan setinggi tiga meter dari atas permukaan air. Kegiatan melompat ini dinilai aman, karena sungai memiliki kedalaman dua hingga tiga meter dan arus yang tidak terlalu deras.

Pemerintah sendiri bekerja sama dengan warga pemilik lahan selaku pengelola masih akan mengembangkan obyek wisata alam tersebut. Salah satunya membuat kamar mandi bilas, guna memfasilitasi pengunjung yang ingin menikmati air sungai alami tersebut.

Lelah berkeliling menikmati detil jembatan ajaib ini atau menikmati aliran sungainya, Pengunjung dapat mengunjungi spot-spot pelepas lelah seperti gazebo, dan kios-kios penyedia makanan. Warga sekitar sengaja membangun beberapa kios untuk memfasilitasi pengunjung.

Sementara pemerintah membantu pembangunan di bidang infrastruktur wisata ini, seperti tempat ibadah, sarana kebersihan, spot-spot bermain, hingga gazebo.

 “Pemerintah daerah bekerja sama dengan pemilik lahan sebagai pengelola, dengan cara bagi hasil keuntungan dari pengunjung. Pemda membangun fasilitas, sedangkan warga mengelola operasional,” ujar Armaini.

Fajrin, warga sekitar yang tinggal di dekat Jembatan Akar, mengatakan bahwa jembatan tersebut sudah ada sejak tahun 1940-an. Pada zaman perang, jembatan ini dibuat untuk melarikan diri atau bersembunyi.

Armaini, sendiri menjelaskan bahwa Jembatan Akar tersebut sudah berusia puluhan tahun, namun tepatnya ia hanya mampu memperkirakan usianya lebih dari 60 tahun. Pada awalnya masih terdapat bambu yang dipakai sebagai rangka tempat akar melilit.

Namun lama-kelamaan, bambu tersebut lapuk. Dengan sendirinya akar tersebut terus melilit dan semakin kuat membentuk jembatan.

Meski sudah ada sejak puluhan tahun lalu, jembatan tersebut baru diresmikan sebagai obyek wisata mulai tahun 1992.

Buka sejak pukul 07.00 WIB, dan tutup hingga pukul 17.00, karena di sore hari tempat tersebut mulai gelap tertutup rindangnya pepohonan di sekitar sungai.

Pengunjung umumnya penuh memadati obyek wisata tersebut pada akhir pekan. Pengunjung sendiri mayoritas berasal dari berbagai tempat di Sumatra dan Jawa.

Sayangnya saat saya berkunjung terlihat sampah-sampah bekas makanan memenuhi sisi samping sebelum memasuki jembatan. Pengelolaan sampah dan limbah makanan dari warga yang berjualan dinilai belum baik.

Armaini mengatakan, pihaknya sudah melarang pedagang untuk berjualan di sisi jembatan, atau di sembarang tempat. Terlebih banyak pedagang yang kerap membakar sampahnya di dekat jembatan, sehingga mengotori udara dan sungai tersebut.

kompas.com

 

Sat

Pesona | Jembatan | Unik | dari |

Copyright @2015