Selasa, 12 Juli 2016 06:30 WIB

Penamaan Sat-81 Gultor Diambil Dari Tahun Pembajakan Woyla, Densus 88....?

 Penamaan Sat-81 Gultor Diambil dari Tahun Pembajakan Woyla, Densus 88....?

Satuan-81 Penanggulangan Teror, atau biasa dikenal dengan Sat-81 Gultor, merupakan unit khusus di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) untuk mengatasi aksi terorisme atau teror bersenjata. Dalam sejarahnya, satuan ini dibentuk tidak lama setelah kasus pembajakan pesawat DC-9 Garuda Indonesia di Thailand tahun 1981.

Karena itu Gultor Kopassus dinamakan Sat-81. Angka 81 berasal dari tahun pembebasan sandera Woyla yang legendaris itu.

Selain TNI, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) juga memiliki kesatuan yang sama. Unit ini dinamakan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror. Angka 88 sendiri berasal dari kata ATA (Anti-Terrorism Act), jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi Ei Ti Ekt, sehingga terdengar seperti Eighty Eight (88). Jadi tak seperti TNI, angka 88 tak berarti tahun tertentu.

Akan tetapi ada pula yang beranggapan angka 88 tersebut diambil dari bentuk borgol. Tak sedikit pula yang menduga angka tersebut berasal dari jumlah korban Bom Bali asal Australia.

Nah, bagaimana sebenarnya Densus 88 ini terbentuk?

Dikutip dari berbagai sumber, awal tahun 2000-an, atau dua tahun setelah Era Reformasi bergulir, Indonesia diguncang dengan pelbagai aksi pengeboman. Banyak bom yang menyasar rumah ibadah, dan beberapa tempat keramaian.

Aksi pengeboman terbesar pertama kali terjadi di Kedutaan Besar Filipina pada 1 Agustus 2000 lalu. Bom tersebut dipasang di sebuah kendaraan roda dua. Akibatnya 2 orang tewas dan 19 orang terluka.

Teror terus berlanjut dengan aksi pengeboman di Kedutaan Besar Malaysia. Sebuah granat meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia beruntung tidak ada korban jiwa. Tidak lama setelahnya, Bursa Efek Jakarta juga dibom, ledakan mengguncang lantai parkir P2 yang mengakibatkan 10 orang tewas dan 90 orang terluka.

Pengeboman terus berlanjut ke lokasi-lokasi lainnya, bahkan pusat perbelanjaan juga diincar. Puncaknya adalah Bom Bali I dan II, bom kuningan hingga pengeboman di Hotel JW Marriot.

Berbagai aksi tersebut membuat Indonesia berkali-kali mendapatkan travel warning dari negara-negara lain, utamanya AS dan Australia. Karena sudah semakin meresahkan, akhirnya Polri memutuskan membentuk satuan baru untuk memburu para pelaku teror.

Sebelum satuan khusus ini terbentuk, Polri sebelumnya sudah memiliki satu detasemen yang mirip, yakni Namanya Sat-1 Gegana Brimob.

Setelah menerima pendanaan langsung dari Amerika Serikat, Polri langsung membentuk satuan khusus anti teror. Dukungan tak hanya dana, tapi juga pelatihan, dan peralatan pendukung.

Tak menunggu lama, Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar menerbitkan Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003, yang intinya membentuk satuan khusus antiteror. Surat tersebut juga memerintahkan para anggotanya untuk melaksanakan Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perppu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Setelah berlatih beberapa bulan, akhirnya satuan ini dibentuk. Sat-88 Antiteror diresmikan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Firman Gani pada 26 Agustus 2004, sekaligus pembentukan pertama di wilayah kepolisian daerah.

Setelah berdiri, Firman Gani menunjuk AKBP Tito Karnavian sebagai komandan pertama. Tak hanya itu, kewenangan tugas Densus 88 dalam pemberantasan tindak pidana terorisme dikuatkan dalam Skep kapolri No. 30/VI/2003.

Setelah itu, Densus 88 terus menunjukkan prestasinya. Mulai dari keberhasilan mereka mengungkap rangkaian pengeboman di Jakarta dan daerah, otak di balik aksi pengeboman itu juga berhasil dibekuk dan ditembak mati.

Kini, komandan pertama Densus 88 dipercaya Presiden Joko Widodo untuk menempati posisi tertinggi di kepolisian, yakni Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) menggantikan Jenderal Pol Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun.

merdeka.com

Sat


Copyright @2015