Rabu, 04 Januari 2017 11:15 WIB

OPINI: Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah Dalam Perspektif Kearifan Lokal

 OPINI: Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah Dalam Perspektif Kearifan Lokal
Para pejabat Jambi gunakan pakaian melayu Jambi

SR28JAMBINEWS - Falsafah Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah di Alam Melayu Jambi mengandung etika hukum yang rasional. Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah adalah hukum yang diwarisi dari kerajaan pagaruyung Islam hasil dari kesepakatan ulama dan kaum adat di bukit Marapalam dan diadopsi oleh kerajaan Islam di seluruh nusantara. Adat Alam Melayu Jambi adalah adat Islami.

Kehadiran Islam di Jambi diperkirakan terjadi pada akhir abad ke 7 M sampai sekitar awal abad 11 M.

Adat adalah sesuatu yang menjadi kebiasaan masyarakat lokal, oleh karenanya berbeda masyarakat maka berbeda pula adatnya. Menurut adat Melayu jambi, adat dibedakan menjadi 2 bagian yakni adat berbuhul mati dan adat berbuhul sentak. Adat berbuhul mati adalah aturan-aturan dalam masyarakat yang berurat berakar dalam masyarakat sejak zaman purbakala.

Biasanya adat seperti ini adalah norma-norma atau aturan-aturan yang sulit dipisahkan dengan unsur kepercayaan (agama). Menurut para ahli hukum, adat inilah yang sebenarnya adat. Sedangkan adat berbuhul sentak adalah adat yang teradatkan, karena adat ini dapat diubah dan memang akan mengalami perubahan sepanjang zaman.

Adat mencakup hampir semua aspek kehidupan umat manusia, oleh karena itu adat bukanlah benda mati melainkan suatu nilai budaya yang hidup dalam masyarakat pendukungnya. Bila adat itu mati dan terhenti maka masyarakat adat itu dengan sendirinya ikut pula mati. Oleh karena itu suatu prinsip dasar dalam pelestarian dan pengembangan budaya ialah menjaga dasar dalam pelestarian dan pengembangan budaya , menjaga agar dalam masyarakat tidak terjadi kekosongan kegiatan berbudaya.

Karena kekosongan itu merupakan celah masuk (entry point) bagi berkembangnya unsur budaya dari uar.

Pembangunan yang tepat bukan berarti menghilangkan adat istiadat atau menghilangkan kekayaan budaya pada suatu daerah, tapi sebenarnya memajukan potensi dan kekayaan yang ada pada daerah tersebut. Sebab, jika pembangunan malah menghilangkan adat istiadat, maka bisa dipastikan bahwa daerah tersebut akan kehilangan jati dirinya.

Faktor lainnya adalah pragmatis dan keserakahan yang biasanya dimulai dari sebagian elit lokal. Kepentingan subyektif diri mengantarkan mereka untuk melupakan adat istiadat yang sudah ada sekaligus menghancur leburkan nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Adat istiadat sering kali dilupakan karena tidak dilahirkan oleh ilmuan-ilmuan barat yang menjadi kiblat sebagian besar kaum intelektual lokal. Nilai-nilai kebudayaan luar yang beragam menjadi basis dalam pembentukan suku budaya luar yang berdiri sendiri dengan kebebasan-kebebasan ekspresi.

Proses pembangunan dimaknai secara sederhana sebagai perubahan kehidupan masyarakat tradisional menuju masyarakat modern. Modernitas dilakukan dengan memperkenalkan lembaga dan nilai-nilai baru dengan menghancurkan tatanan nilai-nilai luhur nenek moyang yang dipandang sebagai kendala terhadap jalannya proses modernisasi. Tantangan kehidupan global sudah terasa dampaknya bagi kehidupan masyarakat. Tidak jarang globalisasi juga melahirkan ekses negatif terhadap melemahnya budaya. Apabila tidak diantisipasi dengan memperkuat filter budaya dan agama, maka globalisasi akan dapat merugikan terhadap eksistensi nilai-nilai budaya.

Krisis kepemimpinan di Indonesia saat ini dengan tepat dapat digambarkan dalam sebuah seloko adat Melayu Jambi, “Pagar Makan Tanaman” artinya, orang yang dipercaya, yang seharusnya menjaga dan memelihara malah sebaliknya, merusak. Kehidupan yang dipimpin oleh pemimpin yang mampu menciptakan suasana kondusif, menjunjung nilai-nilai kepatuhan dan loyalitas, mengedepankan kepentingan orang lain (masyarakat), serta nilai toleransi yang tinggi dan memberikan contoh yang baik kepada masyarakat yang dipimpinnya dengan mengutamakan nilai-nilai moral dalam masyarakat akan menciptakan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang. Jika pemimpin bersikap sebaliknya, maka tatanan moral dalam masyarakatpun akan rusak.

Pemimpin itu hendaknya ibarat sebatang pohon, batangnya besak tempat bersandar, daunnya rimbun tempat berlindung ketiko hujan, tempat berteduh ketika panas, akarnya besak tempat besilo, pegi tempat betanyo,balik tempat babarito.

Sementara itu, seorang pemimpin juga dituntut mampu untuk menemukan orang-orang terbaik yang profesional dan bermoral, sehingga membantu pemimpin untuk mengarahkan kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan masyarakatnya. Nan buto pengembus lesung, nan pekak peletus bedil, nan lumpuh penunggu rumah, nan patah pengejut ayam, nan pandai tempat beguru, nan tau tempat betanyo, nan elok pelanta duneh, nan kayo pelepas sesak, nan bakain babaju penudung miang. Dapat dijelaskan bahwa kultur masyarakat Jambi banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan ajaran Islam.

Ajaran Islam menyentuh masyarakat Melayu Jambi sehingga banyak adat kebiasaan masyarakat yang dirubah atau di sesuaikan dengan ajaran-ajaran keislaman. Jambi kekinian adalah ado sirih nak makan sepah, kendatipun tersedia yang baik, masih juga berkendak yang buruk. Suatu kenyataan yang sudah dinikmati manusia di era globalisasi yang menimbulkan pengaruh negatif dan positif yang akan mengancam dan sulit untuk dihindari.

Nilai-nilai kebudayaan luar yang beragam menjadi basis dalam pembentukan suku budaya luar yang berdiri sendiri dengan kebebasan ekspresi. Dalam hal ini, globalisasi inheren dengan konstruksi, diaspora dan internalisasi suatu nilai-nilai budaya tertentu melalui cara yang khusus seperti komersil, maupun adopsi ideologis ke suatu wilayah sebagai konsekuensi logis dari proyek globalisasi.

Dalam konteks ekonomi politik, globalisasi juga dianggap sebagai kelanjutan baru dari penjajahan ekonomi (neo imperialis) dari akibat kegagalan negara-negara yang menganut teori Keynesian pada kebijakan perekonomiannya ke negara-negara maju di dunia ke tiga. Proses produksi dan ekspansi ruang produksi ekonomi pada suatu wilayah ke wilayah yang lain merupakan bagian dari neo imperialis dan neo liberalis yang mencita-citakan konektivitas global demi efisiensi akumulasi kapital tak terhingga.

Jambi kekinian sungguh sangat berbeda. Kota Jambi sekarang sudah banyak berdiri ruko-ruko dan bangunan-bangunan modern serta pusat perbelanjaan yang modern pula. Maraknya tempat hiburan malam ditambah lagi dengan banyaknya kendaraan yang melintas baik kendaraan roda dua dan roda empat.

Para pengendara kendaraanpun bertindak semaunya tanpa memperdulikan rambu-rambu lalu lintas dan keselamatan jiwanya dan orang lain. Trotoar sebagai fungsi untuk pejalan kaki beralih fungsi menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima seiring dengan pesatnya jumlah penduduk Kota Jambi.

Fenomena yang fantastis beberapa tahun kebelakang ini adalah kebakaran yang sengaja di bakar sehingga mengakibatkan kabut asap. Beberapa catatan kelam pengelolaan kebijakan lingkungan, mulai dari pembalakan liar, kebakaran hutan, konflik manusia dengan satwa hingga hak-hak penduduk asli.

Rusaknya moral para remaja di kota Jambi pun mulai meningkat. Hal ini terungkap dengan kasus prostitusi di Jambi yang melibatkan pelajar SMP, SMA dan Mahasiswa. Melihat fenomena kota Jambi akhir-akhir ini, terutama terkait dengan rusaknya moral para remaja kota Jambi, sebagaimana yang dilansir dalam media massa Kota Jambi, terlihat pelan tapi pasti adat bersandi syarak syarak bersandi kitabbulah telah ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri, pendidikan dasar dalam keluarga yang mengajarkan norma-norma, nilai-nilai adat dan budaya serta ajaran-ajaran agama telah memudar.

Berperilaku layaknya kaum barat dianggap sebagai salah satu bentuk modernitas, masyrakat yang up to date, disini penulis melihat bahwa kebanyakan masyarakat kita gagal paham akan maknanya modern.

Modern tidaklah dimaksudkan gaya hidup western, melainkan adalah berpikir global dalam memandang sesuatu tanpa harus meninggalkan landasan-landasan berpijak. Kalau di barat, gaya hidup mereka adalah sudah merupakan budaya mereka, sebagai contoh berpakaian minim, minuman beralkohol, dan lain sebagainya, itu sudah menjadi suatu budaya, kebiasaan. Tetapi dalam memandang sesuatu mereka berpijak pada landasan-landasan yang dijadikan rujukan dalam melihat sesuatu. Disinilah peran adat bersandi syarak, dan syarak bersandi kitabbulah harus kembali dibangkitkan, memaknai modernisasi tidak harus meninggalkan apa yang menjadi tuntunan hidup.

Para pemimpin, para pembuat kebijakan, para pendidik dan para orang tua dan masyarakat sepatutnya belajar dan melihat begitu banyak daerah atau negara-negara lain yang mampu mempertahankan apa yang menjadi tuntunan mereka, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang ada. Menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila dan nilai-nilai luhur lokal mampu mengangkat derajat dan martabat daerah dan tentu bangsa kita di mata dunia international.

Disinilah peran pendidik dan orang tua sangat dituntut dalam membimbing generasi penerus bangsa, dan pemimpin serta para pembuat kebijakan sebagai decision maker selayaknya berpegang teguh pada nilai-nilai luhur tersebut dalam setiap keputusan yang dibuat. Disadari atau tidak munculnya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi budaya daerah.

Seperti penurunan rasa cinta terhadap budaya ibu, erosi nilai-nilai budaya massa yang menyebabkan budaya lokal termarginalkan dan di lupakan keasliannya karena berbagai persepsi dan doktrin. Pemimpin yang  baik adalah pemimpin yang bergikir global bertindak lokal. Rajo adil, rajo disembah, rajo zalim, rajo disanggah. Kalo bulat dapat digulingkan, pipih dapat dilayangkan, putih berkeadaan, merah dapat ditengok, panjang dapat diukur, berat dapat ditimbang.

Penulis : Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP

Dosen STIT AD Jambi

Penulis - Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP

OPINI: | Adat | Bersandi | Syarak, |

Copyright @2015