Minggu, 02 Juli 2017 14:33 WIB

Dia Adalah Kamu Yang Lain, Kronik Indonesia

 Dia Adalah Kamu Yang Lain, Kronik Indonesia
Pelaku penusukan Polisi tewas

SR28JAMBINEWS - Ada fenomena yang unik saat awal - awal booming ruqyah jin. Tiba - tiba jin menjadi kambing hitam dan tersangka tunggal atas segala hal yang tidak beres dalam kehidupan manusia. Urusannya dengan gangguan jin bukan sekedar kondisi jiwa yang labil, teriakan histeris dan malas beribadah saja. Bahkan, anak nakal dan anak malas belajar saja dianggap karena diganggu jin. Profesi peruqyah pun marak, sehingga tidak jelas lagi "mana dukun hitam dan mana dukun putih".

Kasihan banget nasib jin di Indonesia, karena dijadikan kambing hitam atas banyak urusan yang tidak ada sangkut pautnya dan tidak memiliki hak jawab untuk mengklarifikasinya.

Fenomena yang kurang lebih sama terjadi pada kasus pembunuhan dukun santet di Banyuwangi, Jawa Timur. Awalnya memang disinyalir benar - benar mengeksekusi dukun santet. Tapi lama - lama banyak juga guru ngaji, ustadz, kyai dan ulama yang ikut jadi korban, karena difitnah sebagai dukun santet.

Kampanye melawan korupsi yang digaungkan KPK juga tidak lepas dari pergeseran dan pembiasan. Awalnya memang dimaksudkan untuk membersihkan negeri ini dari benalu korupsi yang sudah menggurita. Pada akhirnya, gerakannya kental dengan fenomena tebang pilih, terjebak pada OTT recehan dan terkesan menjadi intrumen politik pihak - pihak tertentu.

Kasus perang melawan terorisme juga memiliki narasi yang kurang lebih sama. Sejak awal, memang ada bias dalam proses pendefinisian kelompok teroris. Istilah teroris di Indonesia seolah dilekatkan dengan kelompok agama tertentu. Jika ada pihak lain yang melakukan perbuatan sama, tapi bukan berasal dari kelompok agama tertentu, maka mereka akan selamat dari pelabelan sebagai kelompok teroris. Sebrutal apapun aksi geng motor, sedahsyat apapun aksi bom, sepandai apapun rencana makar, mereka tidak akan dianggap sebagai kelompok teroris. Karena diantara ciri - ciri teroris adalah jidatnya hitam, rajin ibadah di masjid dan rajin shalat malam. Keren banget ya?

Permasalahan yang muncul adalah, mereka yang dianggap sebagai teroris seringkali ditemukan dalam kondisi mati. Bahkan jika kejadiannya adalah bom bunuh diri saja, masih menyisakan tanda tanya besar "Apakah mereka pelakunya atau hanya diperalat oleh pihak lain?".

Lebih tragis lagi jika ditangkap dalam kondisi hidup, lalu dipulangkan dalam kondisi mati. Siapa yang menjamin tidak ada salah tangkap? Apa buktinya bahwa dia adalah teroris? Ingatan kolektif tentang kasus Siyono bahkan belum hilang dari kepala kita. Dan publik meyakini bahwa kasus Siyono hanyalah fenomena gunung es, dibalik kampanye perang melawan terorisme yang digaungkan oleh Densus 88.

Lebih rumit lagi jika ditangkap dalam kondisi mati (baca : dieksekusi ditempat). Jika memang pelaku terduga teroris membawa senjata api atau bom rakitan, publik pasti masih bisa mentolelirnya. Tapi jika hanya bersenjata pisau belati, tentu nalar kita sulit memahaminya. Bukankah semestinya dia hanya ditembak kakinya? Bukankah semestinya itu adalah SOP bagi penangkapan pelaku kriminal? Terlebih dari mana kita yakin bahwa pelaku itu adalah teroris sehingga layak untuk dieksekusi mati ditempat? Siapa yang bisa mengkonfirmasi motifnya jika pelakunya saja sudah mati? Siapakah pihak yang bisa mengkonfirmasi kebenaran berita versi penangkap? Apa jaminan bahwa hal itu bukan sekedar alibi?

Sekarang, ada juga yang mencoba mengkaitkan fenomena teror terhadap polisi dengan ideologi takfiri. Seperti biasa, telunjuk akan langsung mengarah kepada wahabi. Memang, sebagian kaum muslimin di Indonesia sangat anti wahabi karena mereka menyerang amaliah yang diterapkannya. Diantaranya, mengkafirkan peziarah dan membid'ahkan tahlilan.

Tapi dalam kasus ini, situasinya malah jadi aneh. Karena justru kelompok wahabi sangat pro terhadap kebijakan pemerintah. Justru malah kelompok wahabi adalah pihak yang paling aman dalam isu terorisme. Ada ustadznya yang akrab dengan densus 88 sehingga memberikan fatwa tembak mati bagi brimob. Ada juga ustadznya yang jadi penasehat dan staf ahli BNPT dalam program deradikalisasi. Ada juga ustadznya yang merestui tembak mati bagi para demonstran. Alhasil, situasinya jadi semakin rumit dan pelikkan?

Jika boleh menerawang, kampanye perang melawan terorisme mungkin juga akan bernasib sama seperti fenomena ruqyah jin, dukun santet dan pemberantasan korupsi. Merembet kemana - mana, melebar kesegala arah dan menjadi spiral kebencian yang sulit diurai.

Akan ada banyak pihak yang dituduh menjadi bagian dari kelompok teroris, meski tidak pernah memegang senjata dan konsisten dengan perubahan yang konstitusional. Alhasil, masyarakat Indonesia akan terus menemukan banyak ragam isu baru yang menegaskan perbedaan secara kontras. Setelah isu Pancasila berhasil memfragmentasi basis sosial rakyat Indonesia, sekarang isu terorisme berada didepan mata. 

Ada peribahasa "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Saat ini, citra institusi kepolisian benar - benar tengah jatuh gara - gara ulah segelintir oknumnya. Kasus ini, semoga tidak menambah daftar panjang rapor merah institusi kepolisian kepada umat Islam.

Kita semua berlepas diri atas segala aksi teror. Kita juga wajib menjaga agar penegakkan hukum terhadap terduga teroris tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah dan menjunjung tinggi HAM. Karena kasus salah tangkap yang berujung maut juga sudah sering terjadi, tanpa ada kejelasan penyelesaian kasusnya. Jika begini terus situasinya, apa kita juga harus diam membisu?

Dia | Adalah | Kamu | Yang |

Copyright @2015