Rabu, 09 Agustus 2017 12:12 WIB

Caping, Topi Petani Penangkal Sinar Ultraviolet Yang Sebabkan Katarak

 Caping, Topi Petani Penangkal Sinar Ultraviolet yang Sebabkan Katarak
Caping petani tangkal sinar ulltraviolet

Dokter spesialis mata, Prof. dr Suhardjo mengatakan jumlah penderita katarak dapat dihitung dengan rumus per 1 juta penduduk terdapat seribu penderita baru setiap tahunnya. Jadi, jika jumlah penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2017 ini berjumlah 3.6 juta, maka ada sekira 3.600 penderita baru sakit katarak.

"Banyak kasus penderita katarak didominasi usia lanjut, diatas 60 tahun. Tapi, ada juga usia produktif dibawah 30 tahun juga ditemui katarak," katanya saat operasi katarak gratis di RSUD Panembahan Senopati Bantul pada wartawan, Minggu 6 Agustus 2017.

Sakit mata katarak yang menyerang orang usia muda dan produktif, lebih banyak disebabkan karena mempunyai penyakit gula dan hipertensi. Pola hidup sehat dalam menjaga mata juga terkadang diabaikan begitu saja.

"Penyakit gula paling berdampak pada timbulnya katarak. Penyakit gula ini tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikontrol saja agar kadar gula dalam kondisi normal," jelas dokter yang dinas di RSUP dr Sardjito Yogyakarta ini.

Terkena paparan sinar matahari langsung, kata Suhadjo, sangat rentan terkena katarak. Tak heran, masyarakat yang sering terkena sinar matahari berpotensi terkena katarak, misalnya petani, kuli bangunan, dan lainnya.

Untuk itu, Suhadjo yang juga sebebaga Ketua Satuan Pemberantasan Buta Katarak ini menyarankan agar para petani melindungi mata dengan perlengkapan seperti topi atau caping. Dengan pelindung kepala itu, selain sebagai peneduh bagian kepala juga menjaga mata agar tidak terkena langsung sinar matahari saat siang hingga sore hari.

"Topi dan caping bagi petani itu tidak saja melindungi dari panas, tapi juga melindungi mata dari sinar ultraviolet matahari yang berbahaya untuk kesehatan mata," katanya.

ya, jumlah penderita katarak itu bisa ditangani dengan baik karena jumlah rumah sakit di kota Gudeg Yogyakarta ini juga cukup banyak. Meski demikian, Suhardjo mengajak masyarakat untuk lebih menjaga aset kesehatan mata dari penyakit katarak.

Direktur RSUD Panembahan Senopati Bantul, dr Gandung Bambang Hermanto mengatakan setiap tahun rumah sakir yang dipimpinnya melayani tidak kurang dari 300 pasien katarak yang melakukan operasi mata. Sebagian besar operasi katarak berhasil dilakukan dengan baik.

Terkait biaya, operasi katarak ini cukup besar, sekira Rp 11 juta untuk sekali operasi. Padahal, dalam operasi katarak biasanya dilakukan 2 kali.

"Ada kartu jaminan kesehatan sangat pembantu biaya operasi katarak bagi yang kurang mampu. Apalagi dengan operasi katarak gratis ini sangat membantu sekali," katanya.

Operasi gratis ini bukan berarti tidak membayar sama sekali. Ada pihak lain yang membayar operasi ini sehingga warga yang menderita katarak tidak mengeluarkan biaya operasi. Operasi ini sangat membantu bagi masyarakat tidak mampu dan tidak memiliki kartu jaminan kesehatan.

Source: Kompas


Copyright @2015