Selasa, 12 September 2017 08:34 WIB

Waduh, Masyarakat Sarolangun Masih Enggan Laporkan Kasus Kekerasan Perempuan & Anak

 Waduh, Masyarakat Sarolangun Masih Enggan Laporkan Kasus Kekerasan Perempuan & Anak
Ilustrasi

SAROLANGUN(SR28)  - Dalam catatan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA) Kabupaten Sarolangun, angka kekerasan pada perempuan dan anak masih tergolong minim. Hingga akhir Agustus lalu, tercatat hanya tujuh laporan kekerasan yang diterima. Hal tersebut dibenarkan langsung oleh Purba Nur Khikmawati, Kabid Perlindungan Perempuan, di Dinas PPA Sarolangun saat dikonfirmasi SR28 belum lama ini.

"Untuk angka kekerasan perempuan dan anak yang kami terima masih minim hingga saat ini. Mungkin karena masih banyak masyarakat Sarolangun yang tidak ingin melapor kekerasan yang dialami oleh mereka," katanya.

Padahal kata Purba, kejadian kekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Sarolangun berkemungkinan masih banyak terjadi. Hanya saja jarang perempuan yang berani mengadu.

“Kalau untuk melakukan aduan ke Dinas PPA ini sepertinya masih sangat jarang. Kadang mereka langsung melapor ke Polres, biasanya mereka mengalami kekerasan fisik. Ada juga yang ke pengadilan, untujlk menuntut cerai,” paparnya.

Menurutnya, alasan minimnya laporan yang diterima Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Sarolangun, dikarenakan masih banyak perempuan yang menganggap kekerasan yang dialaminya adalah aib keluarga yang tidak perlu diceritakan kepada umum.

“Di kabupaten Sarolangun, masih banyak yang beranggapan bahwa kejadian rumah tangga adalah aib keluarga, makanya mereka enggan untuk melapor,” ujarnya.

Saat ditanya dimana saja terjadi kasus kekerasan di Kabupaten Sarolangun pada tahun ini?, Purba menjelaskan, tujuh kasus kekerasan perempuan di Sarolangun terjadi di Kecamatan Sarolangun, Pelawan,  Limun dan Air Hitam. 

"Ada di empat kecamatan, tapi yang paing banyak terjadi Kecamatan Sarolangun, ada empat kasus, yang lainnya hanya  satu saja,” ungkapnya.

Saat ini, lanjutnya, pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sarolangun kerap turun ke masyarakat untuk memberikan sosialisasi, bahwa mereka ada untuk  mendampingi para perempuan yang mengalami kekerasan.

"Perempuan yang mengadu mendapat kekerasan, akan kami dampingi untuk mendapatkan hak-nya. Namun, umumnya kasus kekerasan rumah tangga lebih banyak dilakukan konseling dan mediasi untuk menemukan jalan keluar terbaik, meskipun tidak menutup kemungkinan kasus kekerasan dalam rumah tangga berujung pada pidana dan juga perceraian," pungkasnya.

Reporter: Bule| Redaktur: Agus Sholihin Abar

Waduh, | Masyarakat | Sarolangun | Masih |

Copyright @2015