Rabu, 13 September 2017 09:41 WIB

Bayi Turut Terkena Efek Narkotika

 Bayi Turut Terkena Efek Narkotika
Efek narkotika

SR28JAMBINEWS.COM - Menggunakan narkoba saat hamil akan memberikan dampak yang sangat serius pada perkembangan bayi mulai dari dalam kandungan hingga dia besar nanti. Beberapa efek yang dapat terjadi jika menggunakan narkoba saat hamil yakni keguguran, berat badan bayi rendah, gangguan plasenta, hingga kematian ibu dan janin.

Saat sedang mengandung, apa pun yang Anda konsumsi, janin di dalam kandungan juga turut mengonsumsinya. Jika Anda mengonsumsi makanan yang sehat, bayi akan merasakan manfaatnya. Namun sebaliknya, jika Anda mengonsumsi narkoba saat hamil, maka bayi Anda juga bisa menjadi ‘pengguna narkoba’. Kenapa? Karena setiap zat yang masuk ke dalam tubuh Anda akan mengalir melalui pembuluh darah Anda ke plasenta dan kemudian ke bayi.

Melalui plasenta, bayi mendapatkan asupan agar bisa tumbuh. Jadi, jika Anda mengonsumsi obat-obatan terlarang, meski kadarnya sedikit, tetap bisa memengaruhi kondisi bayi dalam kandungan dan pada saat dia dilahirkan. Penggunaan narkoba saat hamil juga berpotensi menyebabkan gangguan plasenta yang dapat membahayakan Ibu dan janin. Berikut ini adalah jenis obat-obatan terlarang atau narkoba yang dikonsumsi saat hamil dan efeknya pada bayi.

Heroin

Mengonsumsi heroin selama masa kehamilan bisa menimbulkan bahaya serius kepada bayi Anda. Salah satunya adalah terhambatnya pertumbuhan janin dalam kandungan. Perkembangan otak bayi juga berisiko terganggu. keguguran, melahirkan bayi secara prematur dan lahir mati juga bisa terjadi akibat penggunaan heroin.

Ketika baru dilahirkan, bayi berisiko kesulitan dalam bernapas, berat badannya rendah, gula darahnya rendah, ada pendarahan di otak, dan menunjukkan gejala putus obat seperti menangis terus-menerus, kejang, diare, demam, gangguan tidur, dan sendi kaku. Setelahnya, ketika dia tumbuh besar, tingkah lakunya berisiko lebih bermasalah dibanding anak lainnya. Si Kecil juga berisiko tertular HIV dan penyakit Hepatitis C, jika ibunya menggunakan heroin dengan jarum suntik. Jarum suntik membuat pemakainya rentan terkena dua penyakit tersebut. Ibu yang terkena Hepatitis C dan HIV sangat berisiko menularkan kedua penyakit tersebut kepada anaknya, terutama pada Ibu hamil yang tidak mendapat pengobatan.

Kokain

Menggunakan kokain saat hamil bisa menyebabkan keguguran (terutama pada masa awal kehamilan), terlepasnya plasenta dari dinding rahim lebih awal, hingga janin meninggal dalam kandungan. Bayi atau janin dalam kandungan juga berisiko terkena stroke, gangguan pernapasan, serangan jantung, atau kerusakan otak yang bisa menyebabkan kematian. Jika Anda akhirnya bisa melalui masa kehamilan, maka bayi Anda akan terlahir dengan segudang masalah. Bayi berkemungkinan terlahir prematur dengan berat badan yang rendah dan kesulitan untuk minum ASI.

Saat dia tumbuh dewasa, kondisi fisik dan mentalnya berisiko terganggu. Dia juga berpotensi memiliki tingkat kecerdasan yang rendah karena ukuran kepalanya yang cenderung lebih kecil dari bayi kebanyakan. Hal tersebut bisa berdampak pada masa depannya. Jika ibu menggunakan jarum suntik untuk memasukkan kokain ke dalam tubuh, Si Kecil juga bisa berisiko tertular Hepatitis C dan HIV.

Mariyuana

Kerap disebut ganja. Obat terlarang jenis ini paling banyak dipakai. Jika mengisap ganja saat sedang mengandung, kadar karbon monoksida dan karbon dioksida dalam darah akan naik hingga membuat asupan oksigen untuk bayi berkurang. Anda pun berisiko melahirkan bayi secara prematur. Tidak hanya itu, bayi juga akan terlahir dengan berat badan rendah. Kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS)

Saat proses kelahiran, bayi juga lebih mudah terkejut dan gelisah. Bayi bisa mengalami gejala putus obat yang ditandai dengan tangisan yang berlebihan serta tubuh yang gemetaran. Mengalami gangguan belajar saat dia tumbuh dewasa juga dapat terjadi. Kemampuan anak untuk menghafal dan berkonsentrasi terganggu.

Metadon

Wanita yang mengonsumsi narkoba jenis ini saat hamil bisa membuat bayinya mengalami gejala putus obat hingga sindrom kematian bayi mendadak.

Amfetamin

Menelan amfetamin saat hamil mampu meningkatkan risiko plasenta terlepas dari dinding rahim lebih awal, adanya masalah pertumbuhan pada bayi (misalnya berat badan kurang), janin meninggal di dalam rahim, keguguran, dan bayi terlahir prematur. Dan jika sudah dilahirkan, bayi juga bisa ikut kecanduan amfetamin dan menunjukkan gejala putus obat seperti gemetaran, susah tidur, kejang otot, susah makan, hingga sulit belajar di saat memasuki bangku sekolah.

PCP & LSD

Menggunakan narkoba jenis halusinogen ini saat hamil bisa membuat bayi lahir dengan berat badan rendah, kerusakan otak, kesulitan mengendalikan gerakan otot, lesu, tremor (gemetaran), hingga membuatnya mempunyai masalah perilaku, emosi, dan pembelajaran.

Solusi Terbaik

Jika Anda menggunakan obat terlarang terutama secara rutin dan sedang hamil, temui dokter dan diskusikan cara terbaik untuk berhenti. Ada jenis obat narkotika tertentu yang perhentiannya perlu dilakukan secara bertahap dan tidak secara langsung, karena berisiko berdampak buruk. Selain itu, bantuan medis akan sangat bermanfaat jika sang ibu telah mengalami kecanduan.

Berterus terang kepada dokter atau bidan bahwa Anda seorang pemakai agar mereka dapat memberikan perawatan dan perhatian khusus kepada kehamilan Anda. Jika Anda telah kecanduan obat-obatan terlarang, seperti heroin, mungkin dokter akan meresepkan metadon sebagai bentuk pengobatan. Mengganti heroin dengan metadon dianggap lebih baik. Meski begitu, risiko tetap bisa dialami oleh bayi karena pada dasarnya metadon masih sejenis narkotika.

Kondisi kesehatan wanita hamil tidak sama seperti wanita normal pada umumnya. Kondisi mereka lebih sensitif alias banyak pantangannya, terutama yang berhubungan dengan asupan gizi. Jadi, usahakan untuk selalu menjaga asupan nutrisi ketika sedang hamil. Konsultasikan kepada dokter mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Bagi para wanita yang memiliki masalah penggunaan narkoba, sedapat mungkin mendapatkan bantuan medis dan konseling sebelum hamil adalah langkah terbaik guna mencegah masalah serius yang bisa terjadi saat hamil terkait penggunaan narkoba.

Sebisa mungkin, jika Anda berencana ingin hamil, pastikan tubuh dalam keadaan sehat dan terhindar dari zat-zat berbahaya. Oleh karena itu, tanamkan selalu pola hidup sehat demi mencetak generasi yang cemerlang dan hindari menggunakan narkoba saat hamil.

cara membuat slime dari lem povinal

Source: Alodokter

Bayi | Turut | Terkena | Efek |

Copyright @2015