Sabtu, 23 September 2017 16:30 WIB

Hebat! Film Turah Wakili Indonesia Di Ajang Oscar

 Hebat! Film Turah Wakili Indonesia di Ajang Oscar
Adegan film Turah

JAKARTA - Sejak tahun 1984, setiap tahunnya Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) mengirimkan sebuah film di ajang Oscar. Kali ini, film Turah garapan Wicaksono Wisnu Legowo dipercaya bisa menjadi senjata ampuh untuk dapat berkompetisi dengan puluhan film dari negara-negara lain, di kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

Diketahui para pendahulunya seperti: Nagabonar, Tjoet Nja’ Dhien, Daun di Atas Bantal, Ca Bau Kan, Biola Tak Berdawai, Gie, Berbagi Suami, Denias Senandung di Atas Awan, Alangkah Lucunya (Negeri Ini), Sang Penari, Sang Kiai, dan tahun lalu, Surat dari Praha. Namun nyatanya, senjata-senjata terbaik ini, belum pernah ada yang mampu merebut salah satu kursi di nominasi tersebut.

Dibandingkan dengan negara lain, Italia sudah 62 kali memasukkan filmnya ke Oscar, dan 31 kali menjadi nominasi. Itu merupakan kemenangan terbanyak yang pernah dimiliki negara di luar Amerika Serikat yang memasukkan filmnya ke kategori Best Foreign Languange Film. Bahkan Iran sudah mengharumkan negaranya pada 2011 dan 2016.

Para komite seleksi pun kini lebih serius dalam memilih film yang akan mewakili Indonesia. Turah dipilih oleh komite seleksi yang terdiri dari 13 orang termasuk Christine Hakim, Reza Rahadian, Mathias Muchus, dan Marcella Zalianty karena ceritanya dan teknis yang sederhana, namun penggarapannya dinilai dramatis dan pesan yang disampailan sangat kuat.

Menurut Christine Hakim sebagai ketua dari komite seleksi, menjelaskan bahwa secara tematik, sekarang sedang terjadi krisis kemanusiaan di seluruh dunia. Kehidupan yang tergambar di film Turah adalah cerminan kehidupan saat ini, hanya sering terabaikan.

“Jujur sekali pembuat filmnya, tidak ada pretensi untuk membuat film yang genit atau kultural edukatif, atau mau menjual kemiskinan. Ada krisis moral yang kuat sekali tergambar di film ini. Pesan sampai secara kuat, sederhana, dan jujur. Pemainnya jujur karena tak ada bintang terkenal. Mereka pemain teater dan performa mereka kuat sekali,” ungkapnya dalam jumpa pers, di Jakarta Pusat, Selasa (19/9).

Meskipun demikian, Christine menegaskan bahwa 130 film Indonesia lainnya yang enggan disebutkan judulnya bukanlah film yang buruk. Komite seleksi sudah berembuk bahwa, tidaklah menilai film dari segi jelek atau bagus, terkenal atau tidak, namun dipilih berdasarkan karakteristik Best Foreign Languange Film ala Oscar.

“Setiap festival memiliki karakteristik pemenang yang berbeda-beda. Memang para komite belum ada yang pernah mengetahui bagaimana penilaian di sana (Oscar). Namun, kita terus meriset dan menganalisis, bagaimana sih karakteristik dari pemenang-pemenang sebelumnya. Mungkin film Indonesia yang belum terpilih, lebih cocok untuk festival lainnya,” jelasnya.

Selain itu, Reza Rahardian salah satu anggota komite seleksi pun mengatakan hal yang serupa, bahwa film ini dipilih sudah berdasarkan musyawarah untuk mufakat bersama. Juri sudah punya hak tertulis untuk tidak menyampaikan alasan secara kongkret.

“Secara personal saya menyukai film Turah. Di film tersebut pola tutur dan penggarapannya menarik sekali dengan tokoh dan isu yang diangkat,” ungkapnya.

Mendengar hal gembira tersebut, sang sutradara Turah mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan yang diberikan masyarakat Indonesia. Ia tak menyangka bahwa film yang tadinya hanya dikenal masyarakat Tegal, kini bisa melangkah mendunia.

“Film ini tadinya hanya film yang saya impikan asal jadi. Tapi ternyata bisa masuk bioskop walau hanya 2 minggu, dan kini dikirim ke Oscar. Rasanya tak bisa dikatakan, tetapi saya bersemangat akan membuat film lagi,” ungkapnya saat dihubungi pihak wartawan via telfon.

Turah bercerita tentang kekalahan yang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi warga kampung Tirang. Mereka tidak pernah tahu arti mimpi. Yang mereka tahu, mereka bisa hidup sehari-hari akibat welas asih seorang Darso dan Pakel, juragan nan kaya raya. Hidup mereka seakan didikte, tanpa pernah tahu bagaimana harus memberontak. Apalagi merasakan kemenangan.
Tetapi Turah dan Jadag tidak tinggal diam melihat itu. Mereka seperti dilahirkan untuk membawa perubahan. Di tengah ketakutan untuk memberontak, Turah dan Jadag mendorong warga Tirang untuk berani memperjuangkan kemenangan bersama, sesuai keinginan mereka. Bukan lagi keinginan Darso dan Pakel.

mandi wajib

Hebat! | Film | Turah | Wakili |

Copyright @2015