Senin, 12 Pebruari 2018 15:15 WIB

Kasus Pencemaran Nama Baik Romahurmuziy Sebaiknya Diselesaikan Di Dewan Pers

 Kasus Pencemaran Nama Baik Romahurmuziy Sebaiknya Diselesaikan di Dewan Pers
Muhammad Romahurmuziy

JAKARTA - Polisi menangkap seorang mantan wartawan, Asyari Usman, terkait dengan kasus pencemaran nama baik kepada sejumlah politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pengamat hukum dari Universitas Parahiyangan (Unpar) Bandung, Asep Warlan Yusuf menilai, penangkapan mantan wartawan oleh pihak kepolisian karena tulisannya yang diduga menghina Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy itu terkesan terburu-buru.

Jika berhubungan dengan produk jurnalistik, seharusnya ada mekanisme yang jelas terkait dengan proses hukum. Seharusnya, kata dia, pelapor dapat membawa persoalan tersebut ke Dewan Pers terlebih dahulu. Selama ini permasalahan yang berhubungan dengan tulisan di media massa mempunyai penyelesaian secara aturan sendiri dan tidak serta merta langsung melaporkan ke pihak berwajib.

"Seharusnya dapat dibawa ke dewan pers terlebih dahulu, dilihat apakah melanggar kode etik dan fakta. Kalau Dewan Pers merasa ada unsur penghinaan dan pencemaran dalam tulisan tersebut baru dibawa ke ranah pidana," kata Asep di Jakarta, Minggu (11/2). Dengan demikian, Asep mengatakan, pelapor dalam hal ini Romahurmuziy sudah membatasi dalam upaya kebebasan berpendapat dan berpikir melalui media. Kritikan jangan ditanggapi secara berlebihan.

Asep berpandangan, kritikan masyarakat, apa pun bahasanya, tentu dimaksudkan untuk mengoreksi kebijakan atau sikap dari partai. "Padahal, pelapor (Romy) masih bisa juga menjelaskan dan mengklarifikasi bahwa tulisan tersebut tidak benar dan berbau fitnah sesuai ketentuan berlaku dengan Undang-Undang tentang Pers," ucapnya.

Polisi menangkap Asyari Usman terkait dengan kasus pencemaran nama baik kepada sejumlah politisi PPP. Dari tangan Asyari, kepolisian mengamankan beberapa barang bukti berupa satu buah laptop, satu buah telepon genggam, dan satu buah kartu telepon.

Kejadian ini bermula dari pelaporan Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy, Sekjen PPP Asrul Sani, dan Wakil Sekjen PPP Ahmad Baidhowi pada 23 Januari 2018. Ansyarai diduga beberapa kali membuat tulisan pemberitaan di portal berita online  yang berisi fitnah dan pencemaran nama baik kepada Ketua DPP PPP.

Setidaknya ada empat judul berita yang Asyari buat, yakni "Ketum PPP Menjadi Politisex Vendor", "Romi Sudah Menjadi Penjaja Sex Politik", "DPP PPP sebagai Tempat Pelacuran dalan Pilgub dan Pilkada 2018", dan "Jual Diri Ketua PPP kepada Penguasa".

Source: Beritasatu

Kasus | Pencemaran | Nama | Baik |

Copyright @2015