Sabtu, 17 Juni 2017 13:37 WIB

Punya Pasar Khusus, Film Bernapaskan Islam Bakal Tetap Laku

 Punya Pasar Khusus, Film Bernapaskan Islam Bakal Tetap Laku
Adegan film Surga Yg Tak Dirindukan

JAKARTA - Meski film yang bernapaskan Islam telah banyak dibuat oleh sineas lokal di Indonesia, sinema seperti ini dianggap masih akan tetap laku di masa depan. Pasalnya, film-film tersebut memiliki pasar khusus.

“Film-film bernuansa Islam punya pasar khusus ya. Saya kira, memang ada pasarnya, entah jadi niche atau pasar umum, itu masih bisa jadi kompetitif,” ujar Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta Hikmat Darmawan kepada CNN.

Hikmat berpandangan, film-film berlatar Islam pernah sangat menguntungkan dengan Ayat-Ayat Cinta pada 2008 yang disaksikan lebih dari 3 juta penonton. Meski demikian, ia tak memungkiri bahwa akhir-akhir ini tidak semua film dengan latar belakang itu digemari oleh movie-goers di Indonesia.

Untuk mengatasi hal itu, menurut Hikmat, para sineas harus melakukan sejumlah pengayaan dan pendewasaan sehingga bisa lebih ‘membumi’ dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

“Karena kalau terus-terusan hidup di dalam bubble khayalan tentang apa itu gaya hidup Islami tanpa terkait dengan masalah-masalah sosial yang ada, saya kira itu akan jadi wahana jual mimpi saja,” katanya.

Hikmat lantas memberi contoh film 212: The Power of Love yang berkisah soal aksi massa pada Desember 2016 lalu. Ia menjelaskan, dalam video cuplikan film itu, ditampilkan karakter utama yakni seorang wartawan skeptis yang dimainkan oleh aktor Fauzi Baadila. Di sana, wartawan itu mengenakan pakaian serba hitam yang berada di lautan massa yang memakai pakaian serba putih.

Karakter Fauzi, tutur Hikmat, terlihat bertanya-tanya kepada salah satu anggota aksi massa mengenai alasan mengikuti kegiatan itu. Pindah ke adegan terakhir, karakter Fauzi yang awalnya skeptis pun diceritakan justru tergerak untuk ikut menjadi bagian aksi massa tersebut. Ia terlihat mengambil kopiah putih di dalam tasnya lalu mengenakannya di kepala.

“Nah itu kan simbolis sekali. Itu salah satu ciri lain dari gaya hidup Islam ini, seringkali terpaku dengan simbolisnya. Dia tidak berbicara humanisme lebih dalam, cuma basa-basi, walaupun pembuatnya berkeyakinan bahwa ini aspek manusiawinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Mengapa tidak ada sisi orang yang membela Ahok secara manusiawi? Kan seharusnya dua-duanya digambarkan dengan setara. Ini pasti dihilangkan, lha wong [karakter Fauzi] bertanya-tanya saja secara skeptis, soal mengapa ikut 212, motifnya apa. Itu saja pakai baju hitam-hitam kok simbolisnya.”

Lebih jauh, Hikmat menyebut bahwa simbol-simbol yang diperlihatkan secara visual dalam film 212: The Power of Love itu terlalu bersifat simbolis permukaan yang berisiko untuk mendangkalkan nilai-nilai yang mau dibicarakan atau dikompetisikan.

Hal itu, tutur Hikmat, juga terjadi pada film 99 Cahaya di Langit Eropa. Ia memaparkan, dalam film itu, muncul karakter orang asing yang menekan dan biasanya otoritatif. Salah satu contohnya adalah Profesor Reinhart yang jadi pembimbing Rangga. Tokoh ini beberapa kali menyulitkan mahasiswanya yang muslim, Rangga dan Khan, melaksanakan ibadah mereka seperti sholat Jumat.

Lalu ada orang asing penggoda yang diwakili oleh karakter Maarja, wanita yang mengagumi dan mendekati Rangga. Ada pula orang asing ateis yang diwakili oleh tokoh Stefan. Dalam film, Stefan selalu mempertanyakan dan berargumen soal agama, Islam, dan atesime dengan konyol.

“Semua karakter itu takluk oleh kebaikan hati dan kepintaran tokoh utamanya, Rangga. Tapi kan tidak ada kompetisi yang kentara. Filmnya dibikin dengan konstruksi di mana orang-orang di luar Islam sana itu tidak paham karena bodoh. Padahal kalau misalnya dialog dengan ateis itu dibikin lucu tapi setara, malah jadi bagus,” kata Hikmat.

CNN Indonesia

Punya | Pasar | Khusus, | Film |

Copyright @2015