Kisah Mantan PSK Jogja, Tubuhnya Penuh Tato dan Menemukan Jalan Hijrah

by admin

Anisa (paling kiri) dan Sumiyati (paling kanan) menunjukkan tato mereka usai menjalani proses pencabutan tato di Kafe Kongsuu, Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Minggu (28/2/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]

Sumiati yang merupakan mantan PSK akhirnya terlempar untuk kembali belajar Islam

SuaraJogja.id – Suasana Cafe Kongsuu di Desa Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman memang tidak seramai biasanya. Hanya 10 orang yang terlihat duduk melingkar saat makan siang pada Minggu (28/2/2021).

Sejumlah orang ternyata memiliki tato di sekujur tubuh mereka. Sambil bercanda, mereka menunggu giliran melepas tato di kafe milik mantan preman asal Semarang, Pri Anggono.

Salah satu sesepuh di paguyuban itu mengaku sebagai anak jalanan yang biasa bernyanyi di sekitar Monumen Jogja Kembali (Monjali), Kabupaten Sleman. Padahal, dia biasa tidur di jalanan dan berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mencari sesuap nasi.

“Sudah lama kita hidup di jalanan. Menyanyi dan berpindah-pindah. Jadi kita berasal dari berbagai latar belakang dan sangat nyaman berkumpul di lingkungan ini,” kata Sumiyati saat ditemui SuaraJogja.id, Minggu sore.

Baca juga:
Profil Rhere Valentina, Mantan Model Seksi yang Hijrah Sebelum Meninggal

Sumiyati sendiri adalah wanita yang sudah lama hidup di jalanan. Berawal sebagai pengamen di kawasan Magelang, perempuan yang memiliki dua anak ini terpaksa pergi ke DI Yogyakarta untuk menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK).

Sumiyati, mantan psk di Yogyakarta yang memutuskan hijrah dengan menghilangkan tato di tubuhnya saat diterima SuaraJogja di Kafe Kongsuu, Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Minggu (28/2/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]
Sumiyati, mantan psk di Yogyakarta yang memutuskan hijrah dengan menghilangkan tato di tubuhnya saat diterima SuaraJogja di Kafe Kongsuu, Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Minggu (28/2/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]

“Awalnya saya masih nyanyi di Magelang karena tidak punya cukup uang, akhirnya adik saya minta saya nyanyi di Yogyakarta. Pertama di Yogyakarta, saya masih kost dengan putra dan adik saya, lalu saya mulai mengamen dekat. Terminal Jombor, Sleman, ”ujarnya.

Setelah banyak berteman di Jombor, perempuan berusia 35 tahun ini memilih hidup di jalanan bersama anaknya. Suami pertama Sumiyati meninggalkannya karena tidak ada di rumah. Hidupnya terbiasa di jalan dan saat itu ditawari menjadi pelacur.

“Saya pindah kerja karena biayanya lebih mahal. Saya dan teman-teman diajak jadi PSK di Terminal Jombor dulu. Lalu karena ada razia akhirnya mereka pindah ke Pantai Parangkusumo, Bantul,” kata Sumiyati.

Hampir 8 bulan dia melayani pria hidung belang. Penghasilannya juga dirasa cukup untuk membiayai hidupnya, termasuk anak pertamanya.

Baca juga:
Cuma Hijrah, Model Seksi Rhere Valentina Meninggal Dunia

Diakui Sumiyati, di keluarga besarnya tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah seorang pelacur. Bahkan kakaknya yang ada di Yogyakarta tidak tahu kalau Sumiyati harus menjual tubuhnya ke banyak pria.

Sumber : https://jogja.suara.com/read/2021/03/01/105420/cerita-mantan-psk-jogja-tubuh-dipenuhi-tato-hingga-temukan-jalan-hijrah

Related Articles