Selasa, Januari 19, 2021

Opini

Golput pilihan ditengah wabah Covid 19

Oleh: Effi Marleni S.H,M.H

Keputusan pemerintah terkait penyelenggaraan Pilkada ini secara potensial memunculkan masyarakat Golput (Golongan Putih) karena alasan kesehatan dan keselamatan warga. Seruan Golput pertama dilontarkan oleh Azyumardi Azra, guru besar UIN Syarif Hidayatullah, salah satu tokoh intelektual Muslim ini menyatakan diri secara terbuka untuk tidak akan berpartisipasi dalam Pilkada 2020 atau memilih menjadi golput (golongan putih). Golput ini pernah terjadi di beberapa negara yang tetap memutuskan untuk menyelenggarakan Pemilu di tengah kondisi pandemi yang belum mereda. Merujuk Pemilu di Queensland-Australia yang diselenggarakan Maret lalu.

Banyak warga yang memutuskan untuk tidak memilih demi terhindar dari penularan Covid-19. Mereka rela membayar denda yang ditetapkan oleh pemerintah karena menjadi Golput. Hal yang sama juga terjadi di Perancis yang dalam pemilihan lokal hanya 44,7 persen warga yang berpartisipasi. Demikian juga dengan pemilu di Iran yang hanya diikuti oleh sekitar 40 persen. Ini merupakan kondisi terburuk sejak Revolusi Iran di tahun 1979. Dalam situasi pandemi menjadi Golput adalah pilihan yang paling rasional mengingat kesehatan dan keselamatan publik tengah terancam. Situasi ini diperparah dengan maraknya spekulasi tentang kolusi dan menguatnya politik dinasti di kalangan pemerintah serta maraknya politik uang karena perekonomian Indonesia yang semakin terpuruk. Jangan sampai pesta demokrasi hanya dinikmati oleh segelintir kelompok elite politik tertentu yang mencari kekuasaan dan keuntungan namun harus berakhir dengan mengorbankan nyawa rakyat.


Landasan Prinsip Hukum Syariah terhadap Asuransi di Indonesia

Oleh: Muhammad Haadi Nugraha, SH.MH

Asuransi syariah menyimpan dananya di bank yang berdasarkan syariat Islam dengan sistem mudhârabah. Untuk berbagai bentuk investasi lainnya didasarkan atas petunjuk Dewan Pengawas Syariah.

Allah Swt. berfirman dalam Q.S Âli ‘Imran (3): 130. Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dimana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Berdasarkan hukum untuk mempertanggungkan suatu risiko berkaitan dengan keuangan yang diakui secara sah oleh hukum, antara tertanggung dan suatu yang dipertanggungkan dan dapat menimbulkan hak dan kewajiban keuangan secara hukum. Ada beberapa prinsip-prinsip dalam asuransi, yaitu:

1. Utmost good faith, atau itikad baik dari kedua pihak, antara tertanggung dan penanggung.

2. Indemnity, atau ganti rugi. Artinya mengendalikan posisi keuangan tertangung setelah terjadi kerugian seperti pada posisi sebelum terjadinya kerugian tersebut.

3. Proximate cause, adalah suatu sebab aktif, efisien yang mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa secara berantai atau beurutan dan intervensi kekuatan lain, diawali dan bekerja dengan aktif dari suatu sumber baru dan independen.

4. Subrogation, merupakan hak penanggung yang telah memberikan ganti rugi kepada tertanggung untuk menuntut pihak lain yang mengakibatkan kepentingan asuransinya mengalami suatu peristiwa kerugian.

5. Contribution, suatu prinsip di mana penanggung berhak mengajak penanggung-penanggung lain yang memiliki kepentingan yang sama untuk ikut bersama membayar ganti rugi kepada seorang tertanggung, meskipun jumlah tanggungan masing-masing penanggung belum tentu sama besarnya.

Ada dua jenis risiko yang dapat diasuransikan:

1. Takâful keluarga (asuransi jiwa), meliputi:

a. TakâfulBerencanaWaktu, Insurance and Islamic Law,

b. Takâful Pembiayaan,

c. Takâful Pendidikan;

d. Takâful Kolektif (asuransi kerugian), meliputi Takâful kebakaran,  Takâful kendaraan bermotor, Takâful kecelakaan diri, Takâful pengangkutan laut, darat, dan udara serta Takâful l rekayasa/engineering

Ada baiknya, kita mengutip pandangan ulama Islam terhadap eksistensi asuransi pada masa-masa awal sehingga melahirkan satu konsep yang disebut dengan asuransi takaful. Tujuannya sama dengan asuransi, namun beda dalam banyak praktek dan teori. Yang paling mengemuka dari pendapat-pendapat tersebut terbagi tiga, yaitu:

Pertama, Mengharamkan. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya, temasuk asuransi jiwa. Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq, ‘Abd Allâh al-Qalqi (mufti Yordania), Yusuf Qaradhâwi dan Muhammad Bakhil al-Muth’i (mufti Mesir). Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah: Asuransi sama dengan judi, Asuransi mengandung unsur-unsur tidak pasti,  Asuransi mengandung unsur riba/renten; dan Asuransi mengandung unsur pemerasan, karena pemegang polis, apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya, akan hilang premi yang sudah dibayar atau dikurangi, Premi-premi yang sudah dibayarakan diputar dalam praktik-praktik riba,  Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai. Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis, dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah.

Talak cerai Via Telepon

Oleh: Farida Ayu Nadya S.Sos, M.H

Urusan perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor  16 Tahun 2019 yang diatur ketentuannya dalam Kompisili Hukum Islam. Aturan-aturan Islam mengenai perkawinan, perceraian, dan perwarisan bersumber dari literatur-literatur Islam dari berbagai mazhab yang dirangkum dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Namun dalam praktek perkawinan yang berlaku di dalam masyarakat, banyak bermunculan hal baru bersifat ijtihad, karena tidak ada aturan yang khusus untuk mengatur hal tersebut.

Perkembangan Teknologi informasi (TI) abad XXI sangat pesat dan menduduki lini kehidupan. Terutama dalam komunikasi yang berbasis kemudahan dalam melakukan hubungan seseorang secara langsung. Konteks dalam Hukum Islam ini yang bersifat universal (umum), sehingga dengan kaidah ushul fikih itu sendiri, bahwa hukum tersebut akan berubah dengan perubahan zaman dan perubahan tempat.

Permasalahannya, hukum positif di Indonesia sekarang ini belum mengatur spesifik kaidah perkawinan yang melalui alur telekomunikasi, sementara itu perkembangan teknologi informasi yang lebih cepat dan pesat jika dibandingkan dengan perkembangan hukum, perangkat hukum dan aparatur penegak hukum demi menyelesaikan persoalan hukum ini dalam bingkai teknologi.

Menurut Undang-Undang Nomor  16 Tahun 2019 tentang Perkawinan, perkawinan adalah ikatan lahir batin seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga bahagia dan kekal. Perkawinan pada umumnya dilakukan disatu tempat seperti masjid, rumah, atau gedung dimana calon suami dan calon istri serta walinya hadir di tempat tersebut, namun di Jakarta Selatan pada tahun 1989 terjadi perkawinan melalui telepon, dan hal tersebut sah dengan adanya Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan No. 1751/P/1989 tentang pengesahan pernikahan melalui telepon, walaupun sampai saat ini hukum positif di Indonesia belum mengatur secara spesifik tentang kaidah perjawinan melalui jalur telekomunikasi.

Pelaksanaan hukum perceraian sebagai bagian dari hukum perkawinan juga bersifat pluralistis, sehinnga pada hal-hal tertentu (perbuataan hukum dan peristiwa hukum tertentu) masing-masing golongan penduduk tunduk pada subsistem hukum perceraian yang berbeda-beda, yaitu sebagai berikut :

a. Hukum perceraian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) berlaku bagi para suami dan istri warga negara Indonesia yang bergama Islam, yang melakukan perceraian di pengadilan negeri.

b. Hukum perceraian menurut hukum islam berlaku bagi para suami dan istri warga negara Indonesia yang bergama Islam, yang melakukan perceraian di pengadilan agama.

c. Hukum perceraian menurut hukum adat berlaku bagi para suami dan istri warga negara Indonesia yang juga menjadi warga dari kesatuan masyarakat hukum adat dan memegang teguh hukum adatnya, yang melakukan perceraian di pengadilan agama (bagi yang beragama Islam) atau di Pengadilan Negeri (bagi yang beragama Kristen).

Hukum talak (cerai) melalui SMS dapat dianalogikan atau dikiaskan dengan hukum cerai melalui tulisan surat biasa. Sebab kesamaan keduanya merupakan pesan cerai Keabsahan melalui teks yang bukan verbal (lisan), para ulama fikih (fuqaha) sepakat bahwa hal itu efektif jatuh talak. Perceraian adalah putusnya suatu perkawinan antara suami istri yang telah melangsungkan suatu perkawinan, baik cerai hidup maupun cerai mati yang disebabkan oleh beberapa faktor dan memenuhi persyaratan. Dalam perumusanxketentuanxhukum suatu permasalahan atauxperistiwa sebaiknya menggunakanxinstrumen istibat hukum yang konfrehensi agar tercapaixkemaslahatan bagi umat. Alangkah baiknya perkembangan teknologi yang ada saat ini bisa disikapi dengan bijaksana agar pengguna teknologi dapat pengaruh positif bagi perkembangan bangsa dan agama.

Masih Lemahnya Kesadaran Masyarakat di Indonesia Dengan Terbukti Banyaknya Pelanggaran Terhadap Larangan Melakukan Kerumunan Pada Masa Pandemi Covid 19 Corona Virus

Oleh : Haidir S.Ag.,M.H.

Manusia saat ini tengah menghadapi suatu krisis global yang mungkin menjadi salah satu krisis terbesar dalam kehidupan manusia. Kondisi ini menuntut setiap elemen masyarakat, pemerintah, dan elit politik untuk bersinergi dalam mengatasi kompleksitas implikasi yang ditimbulkan dari mulai kesehatan, ekonomi, sosial politik, sampai budaya. Karena Persebaran pandemi Covid-19 yang semakin meluas menyebabkan krisis kesehatan nasional bahkan global. Pemerintah Indonesia telah menyatakan status kedaruratan kesehatan pada tanggal 31 Maret 2020 melalui Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19. Akan tetapi krisis kedaruratan semacam ini tidak bisa dipandang sederhana. Karena situasi kedaruratan (state of emergency) memberikan kekuasaan luar biasa kepada negara yang tidak dimiliki ketika situasi normal, hal ini lazim disebut sebagai Emergency Power.

Untuk menangani wabah tersebut, penegakan hukum menjadi salah satu langkah yang dipilih pemerintah. Aparat kepolisian pun dikerahkan dalam mengatasi wabah virus corona di Tanah Air. Secara garis besar, polisi bertugas dalam membubarkan kerumunan massa, menangani penyebar berita bohong atau hoaks, serta penimbun bahan pokok.

Awalnya, Kapolri mengeluarkan Maklumat Nomor Mak/2/III/2020 tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona (Covid-19). Melalui maklumat yang ditandatangani Idham pada 19 Maret 2020, Kapolri meminta masyarakat tidak berkerumun.

Adapun, tindakan pengumpulan massa terdiri atas empat hal.

Pertama, pertemuan sosial, budaya, keagamaan dan aliran kepercayaan dalam bentuk seminar, lokakarya, sarasehan dan kegiatan lainnya yang sejenis.

Kedua, kegiatan konser musik, pekan raya, festival, bazar, pasar malam, pameran dan resepsi keluarga. Ketiga, kegiatan olahraga, kesenian, dan jasa hiburan.

Keempat, unjuk rasa, pawai dan karnaval. Terakhir, kegiatan lain yang menjadikan berkumpulnya massa.

Untuk menindaklanjuti antisipasi kedaruratan penyakit zoonosis, selain telah ada serangkaian regulasi yang mengatur upaya perlindungan dan pencegahan penyakit menular yaitu :

1) Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3273);

3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723);

4) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Keschatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

5) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6236);

6) Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Kedaruratan Bencana pada Kondisi Tertentu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 34)

Kapolri pun juga mengeluarkan telegram bagi jajarannya, yang ditandatangani oleh Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo. Dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1098/IV/HUK.7.1./2020, ancaman pidana bagi mereka yang melawan imbauan polisi untuk membubarkan diri bertambah. "Menolak atau melawan petugas yang berwenang sebagaimana Pasal 212 sampai dengan Pasal 218 KUHP dan menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit sebagaimana UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular Pasal 14 ayat (1) dan (2),"

Dalam Pasal 14 ayat 1 UU tentang Wabah Penyakit Menular disebutkan, siapa saja yang menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah, diancam pidana penjara selama-lamanya satu tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 1.000.000. Sementara, Pasal 14 ayat 2 UU yang sama menuliskan, bagi siapapun yang karena kealpaannya mengakibatkan terhalanginya pelaksanaan penanggulangan wabah, diancam hukuman kurungan enam bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 500.000. Polisi mengantisipasi bentuk pelanggaran atau kejahatan yang mungkin terjadi selama PSBB antara lain kejahatan yang terjadi pada saat arus mudik (street crime), kerusuhan/penjarahan yaitu pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pmberatan. Tindak pidana tersebut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 362, 363, 365, 406, dan 170 KUHP.

Bentuk kejahatan lainnya, yakni upaya menghambat kemudahan akses sebagaimana diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Pasal 77 juncto Pasal 50 Ayat (1) dan Pasal 79 Ayat (1) dan (2). Kemudian, ancaman pidana bagi mereka yang tidak mematuhi atau melanggar penyelenggaraan kesehatan seperti tertuang Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Namun kenyataannya ditengah Langkah hukum yang telah diambil pemerintah dalam penanganan penyebaran Covid 19 masih saja banyak  masyarakat tidak mematuhinya. Meskipun penyebaranCovid 19 telah menjadi salah satu kekhawatiran masyarakat tetapi dengan  berbagai upaya yang berbentuk himbauan dari pemerintah belum benar-benar dipatuhi oleh masyarakat. Bahkan sebagian besar masyarakat menganggap bahwa virus tersebut tidak akan menyebar luas sebagaimana di negara tempat awal penyebarannya.

Berbagai hoax mengenai kondisi cuaca dan iklim di Indonesia sebagai kondisi yang tidak akan menimbulkan penyebaran luas atau hoax terkait ramuan ataupun obat-obatan yang dianggap dapat mencegah timbulnya Covid 19 ternyata mampu mempengaruhi masyarakat untuk tidak sepenuhnya menganggap virus ini sebagai ancaman sehingga masih banyaknya pelanggran pelangran emnegenai protocol kesehtan yang telah ditetapkan.

Pada dasarnya, Pemerintah telah dan selalu menghimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap disiplin dalam menjaga kesehatan dan menjalankan pola hidup yang sehat. Pemerintah juga mengingatkan agar masyarakat tetap melakukan physical distancing dan mengikuti berbagai protokol kesehatan demi mencegah penularan Virus Covid-19 ini. Pemerintah Pusat melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 membuat empat strategi untuk menguatkan kebijakan physical distancing sebagai strategi dasar demi mengatasi pandemi Virus Corona COVID-19 salah satunya penggunaan masker. Masyarakat diwajibkan menggunakan masker saat berada di ruang publik atau di luar rumah. Diharapkan agar dengan memakai masker mata rantai penularan COVID-19 mampu dicegah dan perkembangannya dapat diminimalisir dan bahkan dimusnahkan.

Sayangnya, sekalipun Pemerintah telah melakukan edukasi dan sosialisasi tentang Covid-19, mengubah perilaku individu dari masyarakat ternyata tidaklah mudah. Banyak warga yang masih mengacuhkan peringatan Pemerintah. Di banyak tempat, penerapan New Normal justru difahami dan dijalankan oleh banyak warga dengan cara normal seperti layaknya seperti sebelum dilanda Virus Covid-19. Padahal, sebagai warga negara Indonesia yang baik, adalah wajib hukumnya mematuhi aturan Pemerintahan yang ada untuk kebaikan masayrakat itu sendiri. Apalagi kini wabah Covid-19 sedang menunjukkan taringnya. Karenanya, seluruh masyarakat indonesia diharapkan berperan aktif menjalani segala anjuran dan aturan terkait pencegahan dan penanggulangan Covid-19 sedini mungkin.

Terkait dengan hal tesrebut, dibutuhkan penegakan hukum sanksi denda yang tegas bagi yang melanggar protokol kesehatan berupa penggunaan masker umumnya di Provinsi Jambi dan khususnya di Kabupaten Merangin agar masyarakat sadar akan pentingnya meminimalisir tiap harinya kasus positif Covid-19 di Indonesia. Namun ketegasan di sini juga perlu dibarengi dengan kebijaksanaan dari Pemerintah Kabupaten Merangin agar pesan-pesan dari pemegang kekuasaan dapat didengar dan anjurannya dapat dilaksananan. Sikap Pemerintah seperti ini sangat urgen di saat-saat suasana kehidupan masyarakat tidak kondusif dan tampak tidak menentu akibat wabah Covid-19 dengan segala akibat buruknya dan sisi negatifnya yang sangat berpenguh terutama dibidang kesehatan, ekonomi, sosial, dan juga pendidikan masyarakat.

TENANG

Oleh: Bahren Nurdin
(Akademisi UIN STS Jambi dan Direktur Pusat Kajian Demokrasi dan Kebangsaan)

Semua diharap tenang. Masa kampanye telah berakhir dan tahapan Pilkada serentak tahun ini mamasuki babak baru yaitu masa tenang. Ada tiga hari sebelum menunaikan hajat bersama ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) di sebut masa tenang. Hiruk-pikuk ‘jualan’ para pasangan calon (paslon) bersama tim sudah harus dihentikan baik secara ‘off line’ maupun ‘on line’.

Semua alat peraga harus sudah dibersihkan. Itu artinya seluruh ‘studio’ di jalan sudah harus tutup dan tidak ada lagi yang memajang foto-foto para perserta kontes. Sudah cukup waktu yang diberikan oleh Komisi Pelilihan Umum (KPU) untuk ‘jual’ tampang dan menawarkan program-program kepada ‘calon pembeli’. Termasuk alat kampanye online. Seluruh akun media sosial yang secara resmi didaftarkan kepada KPU sudah harus sign out. Tidak boleh diakses sama sekali.

Seharusnya hal ini juga dihormati oleh para tim sukses. Status-status di media sosial sudah tidak dibenarkan lagi berkampanye. Tidak boleh lagi menonjol-nonjolkan tim jagoanya. Kembalilah menulis statu-status yang menyejukkan. Unggahlah foto-foto selfie terbaik dengan senyum-senyum lebar yang tidak bersangkut paut dengan pilkada. Riang dan gembira. Pilkada tidak harus tegang, kan?

Jika selama masa kampanye beberapa bulan terakhir paslon dan tim sangat sedikit atau bahkan tidak –punya waktu untuk berkumpul dengan anak, isteri, dan keluarga, saatnya untuk pulang ke rumah. Saatnya berkumpul dan bersama. Ada waktu tiga hari untuk menarik nafas selebum nanti  naik ring yang sebenarnya. Begitu juga tim sukses yang harus ikut menenangkan diri. Usaha sudah dilaksanakan maksimal. Tinggal menunggu hasil. Yakinlah hasil tidak akan mengingkari usaha. Apa yang diusahakan itulah yang akan dihasilkan. Ups, jangan lupa ada juga kehendak Tuhan di sana. Maka, usaha harus pula dibingkai harap dan munajat kepada yang Maha pengambil keputusan.

Masa tenang merupakan hari-hari yang diberikan oleh KPU kepada para calon pemilih untuk menenangkan diri sehingga siap untuk mengambil keputusan. Calon pemilih selama ini sudah sangat banyak disuguhkan janji-janji dan program kerja para paslon. Saatnya menimbang-nimbang paslon mana yang akan dipercaya untuk mengemban amanah dan harapan. Menakar-nakar siapa yang mampu menepati janji. Mempelajari semua program dan strategi siapa yang jitu untuk membawa perubahan yang dijanjikan. Masa tenang inilah kesempatan.

Maka dari itu, hentikan segala bentuk provokasai apa lagi intimidasi kepada siapa pun di masa tenang ini. harus diingat pula, masa tenang tidak boleh digunakan untuk menghitung ‘amplop’ yang harus disebarluaskan.  Jika semua itu dilakukan, tentu saja sanksi hukum telah menanti. Tegas, siapa pun yang melanggar segala bentuk aturan yang telah ditetapkan dan diikat oleh undang-undang yang berlaku, harus mendapat hukuman. Termasuk, jika ada yang masih coba-coba berkampanye di masa tenang.

Akhirnya, masa tenang selama tiga hari ke depan tidak boleh ada yang membuat ‘kegaduhan’. Semua harus tenang. Jika selama kampanye ada yang ‘gila’ sekarang saatnya ‘waras’. Jika ada yang tidak bisa menahan lidah dan jarinya, saatnya menahan diri. Maka, jika KPU sudah menyatakan minggu tenang, TENANGLAH! Janganlah ada yang berkampanye lagi!.

SUNGAI BATANGHARI TERANCAM PENCEMARAN ZAT KIMIA

Oleh:  Dwita Sari Fathina
(Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta)

Sungai Batanghari merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera dan merupakan salah satu objek wisata di Provinsi Jambi. Selain itu, Sungai Batanghari juga dimanfaatkan masyarakat untuk menopang berabagai aspek kehidupan, seperti jalur transportasi, perdagangan dan sumber utama pencaharian bagi masyarakat. Sungai yang berwarna cokelat ini menjadi tempat masyarakat bergantung hidup mulai dari mencari nafkah serta menjadi tempat Mandi Cuci Kakus (MCK).

Sungai Batanghari memiliki hasil perikanan yang sangat melimpah, di sana terdapat juga berbagai macam sumber daya alam yang dapat diolah seperti pasir, emas, dan lainnya yang menyebabkan pihak-pihak tertentu ingin berinvestasi dan tertarik untuk mengeksploitasinya. Sungai Batanghari di tercatat memiliki 132 spesies ikan bahkan ada 76 jenis ikan yang dapat di konsumsi dan 56 jenis ikan hias.

Besarnya potensi perikanan di daerah ini membuat warga yang tinggal di pinggiran sungai menjadikan tempat ini sebagai sumber mata pencaharian masyarakat yaitu sebagai nelayan. Komoditas perikanan yang ditangkap oleh nelayan di Sungai Batanghari yaitu ikan-ikan sungai seperti Juaro, Lampam, Patin, Sengarat, Lais, Seluang, Udang Kecil, Kalui/Gurame, Lambak, Belida, Betulu, Tapah, Tilan, Bajubang, Baung, Pari dan lain sebagainya

Di sisi lain, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan tentu akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Salah satu kegiatan penambangan yang mengeksploitasi bahan galian adalah berupa emas. Kegiatan ini bersifat illegal karena tidak dilandasi aturan atau tanpa memperoleh perizinan dari pemerintah pusat ataupun daerah. Saat membersihkan emas yang diambil dari sungai, penambang memisahkan butir-butir emas dan kotorannya di badan Sungai Batanghari dengan menggunakan zat kimia berupa air raksa. Penggunaan air raksa secara berlebihan serta pembuangannya langsung ke sungai dapat menimbulkan pencemaran. Air sungai yang tercemar dapat menimbulkan dampak yang serius terhadap penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya ikan karena zat kimia dapat mengkontaminasi ikan-ikan di sungai melalui rantai makanan.

Dengan kondisi sungai yang sudah tercemar akan menimbulkan berbagai permasalahan dan merugikan berbagai pihak. Beberapa jenis ikan seperti ikan belida, betulu, patin, tapah, dan ikan lampam sudah sangat langka atau susah ditemukan di sungai Batanghari, hal ini dikarenakan ikan-ikan tersebut sudah tidak dapat bertahan hidup di sungai yang sudah tercemar limbah air raksa hasil kegiatan eksploitasi emas (PETI) di sungai ini.

Pencemaran zat kimia dari kegiatan tersebut dapat menyebabkan potensi ikan-ikan di perairan Sungai Batanghari semakin terancam serta merugikan kondisi ekonomi para nelayan serta kondisi sosial warga sekitar. Keberadaan ikan-ikan di sungai Batanghari telah memberikan kontribusi yang baik bagi penghasilan nelayan tetapi dengan pencemaran air sungai yang ditimbulkan oleh pihak penambang membuat para nelayan dapat kehilangan mata pencaharian mereka. Tidak hanya nelayan tetapi juga warga yang tinggal di pinggiran Sungai Batanghari juga tidak dapat menggunakan air sungai tesebut sebagai kebutuhan sehari-hari dan seringnya anak-anak yang  bermain di sungai batanghari dapat terinfeksi zat kimia yang dapat menyebabkan penyakit tifus, kolera, hepatitis, dan lainnya. Maka, orangtua mereka harus menghimbau agar anak-anak mereka tidak bermain di air sungai yang masih tercemar oleh zat kimia.

Dengan begitu, untuk mencegah kerusakan yang lebih parah dan menjaga kualitas air Sungai Batanghari dari pencemaran zat kimia, Pemerintah Daerah (Pemda) harus mensosialisasikan standar yang tegas untuk batasan pencemaran air sungai, memberi hukuman yang pantas bagi pihak yang masih membuang limbah perusahaan atau membuang zat kimia, serta membuat alat atau teknologi yang dapat mencegah dan mengatasi pencemaran air di sungai.

Pemerintah daerah juga dapat memberikan himbauan kepada masyarakat bahayanya atau akibat menambang emas ilegal yang bisa membahayakan dan merusak lingkungan yang dapat menimbulkan kerugian terhadap orang banyak. Lebih dari itu, seharusnya pemerintah juga bisa lebih memperhatikan warganya dengan menyediakan lapangan pekerjaan, agar warga tidak menjadikan tambang emas illegal sebagai mata pencarian.

Akhirnya, untuk menjaga kelestarian Sungai Batanghari ini, semua orang harus mengambil perannya. Warga juga dapat membantu pemerintah untuk mencegah pencemaran air sungai dengan mengelola sumber daya alam yang ada karena peran warga akan mempengaruhi kelangsungan sumber daya tersebut, dengan demikian pencemaran air sungai dapat dicegah. Bersama kita menjaga lingkungan untuk kelestarian alam semesta.

EMMANUEL MACRON DAN MASA DEPAN ISLAM

Oleh: Prof. Dr. H. Adrianus Chatib, M.Hum
(Gubes Sejarah Peradaban Islam UIN STS Jambi)

Mencermati dinamika gelombang protes terhadap Emmanuel Macron yang terjadi di seluruh dunia saat ini, memang sisi pandangnya bisa dari berbagai aspek. Salah satunya, menurut hemat saya bahwa tesis John N. dan P. Abourdene, sebagai futurulog dunia dalam buku ‘The Third Wave’-nya Alvin Toffler,  di masa  datang yg akan merajai dunia adalah: pertama, bangsa yang menguasai informasi; kedua, agama yang akan berkembang pesat dan dianut ialah agama rasional, akan terbukti. Dua hal ini pula yang penting kita analisis sekaitan dg tingkah laku dan kepongahan Emmanuel Macron, sang Presiden Prancis  tersebut.

Sejak dulu hingga sekarang Barat telah melakukan tudingan bahwa Agama Islam adalah ‘Agama Teroris’. Salah satu penyebabnya adalah penguasaan informasi di segala lini didominasi oleh Barat. Maka pembuktian tipuan dibuat dan  ditampilkan via media hanyalah kejelekan segelintir orang Islam, tidak representatif umat Islam dan ajarannya secara utuh dan menyeluruh. Di koran, TV, majalah, buku dan  media online lainnya disebarkan berbagai isu miring yang cenderung tendensius. Tidak ada pilihan bagi  orang Barat baik intelektualnya apalagi rakyat biasa kecuali ‘menelan mentah-mentah’ tentang kejelekan Islam.

Menumpuknya suntikan seperti itu sebagai kelanjutan Perang Salib terselubung, selama beratus tahun, maka jadilah putihnya ajaran Islam dan perilaku penganutnya menjadi ‘abu-abu dan menghitam’ di mata mereka. Sekali lagi, di mata mereka. Namun Islam tetapalah berkilau untuk selamanya.

Ketika Itu (dulu),  umat Islam awam tekhnologi, maka  hal itu dimanfaatkan oleh zending Kristen apa yang dinamakan ‘Kristenisasi Global’. Namun sekarang umat Islam tidak bodoh lagi karena kalau tidak menciptakan, minimal  sudah mahir menggunakan teknologi informasi; berita apa pun dapat akses secara global. Pun, saat ini Barat bisa meneliti, mamahami dan membandingkan ajaran-ajaran agama secara nalar rasional, baik  yg empirik maupun non empiric dengan memanfaatkan tekhnologi.

Otak-otak cerdas mereka tidak bisa lagi dipasung seperti zaman silam karena tekhnologi digital telah menjamur. Mereka sudah bisa membedakan mana agama yang hak dan mana agama yang sudah dimanipulasi. Secara teologis, sebenarnya agama Yahudi (yang belum terkontaminasi teologisnya), Kristen dan Islam berkeyakinan  bahwa Tuhan itu Esa. Nabi Musa, Isa dan Muhammad tidak lebih dari sekedar nabi dan rasul. Tidak ada agama-agama tersebut menaikkan ‘tahta dan kasta’ nabi mereka menjadi Tuhan. Dalam Taurat, Injil dan al-Qur'an, Musa, Isa dan Muhammad adalah rasul.

Namun demikian, dalam perkembangannya Islam tidak bisa dibendung, maka kepentingan politik Kaesar Romawi, akhirnya Isa dibesluit atau ‘di-SK-kan’ menjadi Tuhan yg bertentangan dengan risalah dan akal sehat yakni manusia naik pangkat jadi Tuhan. Inilah yg telah berabad-abad dianut oleh umat Kristen yang sesat.

Sekarang, informasi sudah merata menyebar ke seantero dunia. Apa yg dikatakan oleh Jhon N. dan P. Abourdene menjadi terkuak ke permukaan bahwa agama yang rasional akan dilirik umat, terutama kaum intelektualnya. Di kalangan Kristen/Katholik mulai berpikir ulang tentang agama yang dianut mereka sekaligus mengkomparasikan dengan ajaran Islam. Salah seorang yang melakukan itu adalah  Prof. Maourice .B dengan meneliti mummi Fira'un yang ada di musium Pyramid Mesir, dengan pertanyaan penelitian, siapa Fir'aun itu dan apakah ia mati di laut atau tidak.

Melalui test DNA mummi yang ada di musium Mesir itu, Prof. Mourice menyimpulkan bahwa mayat yang di musium itu  adalah mayat Fir'aun yang mengejar Musa dan ditenggelamkan Allah di laut Merah sebagaimana dikisahkan di dalam Al-Quran.  Namun, Allah tidak ingin sejarah ini berlalu tanpa pesan dan kesan. Mereka yang tenggelam itu ‘diselamatkan’ itulah dianya yang ada musium mummi Mesir tersebut. Tujuannya jelas agar menjadi sejarah dan dijadikan pelajaran bagi generasi berikutnya. Akhirnya, setelah  Sang Profesor menemukan kebenaran yang tidak bisa dibantah si Guru Besar itu, mengucapkan syahadat, menganut Islam. Menurut analisisnya, Islamlah agama yg rasional.( baca: surat Yunus: 92).

Jadi, analisis futurolog Jhon N. & P. A. terbukti sudah bahwa agama Islam rasional mengalami perkembangan dan kenaikan yang supersignikfikans penganutnya dewasa ini. Sementara gereja di Eropa banyak yang tutup karena kehilangan penganut. Secara teologis, Barat tidak dapat membuktikan keyakinannya bahwa Isa anak Tuhan atau Tuhan punya anak. ( Baca: Injil yang asli dan komparasikan dengan Al-Qur'an serta Taurat). Injil asli menyebutkanIsa putera Maryam, bukan putera Tuhan. Al-Qur'an menjelaskan Isa adalah nabi dan dalam Surat al-Ikhlash bahwa Tuhan tidak punya anak dan keturunan.

Kalau pandangan Yahudi bahwa Isa bukan anak Tuhan, tetapi ia adalah anak Maryam hasil perzinahan, karena kenyataannya Isa lahir tanpa Bapak bilogis. Oleh sebab itu,  debat teologis, di forum lokal, nasional dan internasional, zending Kristen tidak tegak kepalanya, karena alasan yang dikemukannya irrasional, alias ngaku kalah. Lihat dialog Zakir Naik dan pastor; di tingkat nasional dan internasional,  debat Hj. Irene yang sudah muslimah dengan lawannya di pihak Nasrani. Begitu juga Yahya Wailoni dengan lawan-lawan  politik dengan pemahaman keagamaannya yg irrasional.

Pada titik ini, dengan hal-hal yang rasional, Macron kehilangan percaya diri, lalu ia mencari dan mencuri jalan lain yakni politik. Teori politik yg pernah berhasil di dunia, terutama di Indonesia adalah teori S. Hurgronje yg intinya ada dua: apertama,  politik adu domba  (devide et impera);  kedua, orang Islam kalau minta bantu, maka bantu baik mendirikan mesjid atau mushalla; tapi. kalau bicara politik, ‘potong lehernya’. Hati-hati!

Akhirnya, apa yang ingin saya sampaikan melalui artikel ini adalah bahwa semakin keras perlawanan dan kebencian Macron terhadap Islam, yakinlah Islam tidak akan rusak bahkan sebaliknya akan semakin berkembang karena Islam adalah agama rasional bukan dokmatis. Perlawanan terhadap Macron sesungguhnya hanya sebagai ikhtiar ummat untuk membela Nabi dan agamanya atas kecintaan. Maka, tidak perlu pula berlebihan dan jangan sampai merugikan diri dan bangsa kita sendiri. Islam akan tetap menjadi agama semua ummat di masa yang akan datang. Sama-sama kita doakan Macron mendapat hidayah dan menganut Islam sebagaimana Shopie Petronin yang menghebohkan itu . Amin.

Aneh!! Pembubaran Aktivitas Malam Hari

OLEH: AGUSTIA GAFAR

Sebelumnya penulis mau bercerita terlebih dahulu pada jum'at malam tepatnya pada tanggal 31-oktober-2020 menuju tanggal 1-november-2020 penulis berkumpul dengan teman-teman di sebuah Kafe di bilangan Telanai Pura Kota Jambi.

Maksud kami berkumpul yaitu ingin diskusi mengenai kegiatan  paguyuban ke depan atau kegiatan yang akan dilakukan kedepan, namun waktu asik diskusi datanglah segerombolan Polisi. Polisi itu pun masuk ke cafe tersebut dan meminta kami bubar. Karena hari sudah malam terpaksa kami bubar dengan pembahasan yang belum tuntas.

Hal pembubaran aktivitas dimalam hari ternyata bukan hanya terjadi di kota jambi juga terjadi di kota-kota lainya atau daerah lain yang berada di provinsi jambi.

Hampir setiap daerah melakukan pembubaran aktivitas pada malam hari dengan alasan untuk memutuskan rantai penyebaran virus corona atau covid-19,  namun menurut penulis sangat aneh dan banyak pertanyaan tentang pembubaran aktivitas masyarakat pada malam hari.

Jika alasan hanya untuk memutuskan rantai penyebaran covid19 pertanyaaannya kenapa pembubaran aktivitas masyarakat cuma pada malam hari? Lalu bagaimana dengan aktivitas siang hari? Tentu ini sangat bertentangan sekali dengan pikiran penulis.

Apa yang membedakan aktivitas siang dan malam hari? Bahkan aktivitas siang hari lebih ramai perkumpulan masyarakat dari pada malam hari, di mall contohnya banyak sekali terjadi perkumpulan dan tidak ada petugas yang melakukan pembubaran.

Bahkan pembubaran pada malam hari yang sering terjadi di cafe dan warung-kopi dan dimana di cafe dan diwarung kopi penulis sering berkumpul berdiskusi dengan teman-teman.

Mari kita lihat undang-undang yang mengatur tentang perkumpulan.
Pasal 28 ayat 3 UUD 1945 berbunyi:
“Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”

Sangat jelas sekali penjelasan dalam UUD 1945 ini, kecuali perkumpulan yang membuat keributan, kegaduhan baru boleh dibubarkan dan bahkan bisa dipidana, jika hanya duduk ngopi sambil diskusi, bercerita, dan canda tawa dengan teman perkumpulan maka tidak pantas untuk dibubarkan dan jika memang alasan untuk memutus penyebaran covid 19 maka perlu juga pembubaran pada siang hari.

Selain UUD 1945, hal ini juga diatur dalam Pasal 24 ayat (1) Undang-undang no.39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia (“UU HAM”) yang berbunyi:
“Setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud-maksud damai".

Jelas sekali berkumpul dengan damai mempunyai dasar yang jelas dan dilindungi oleh undang-undang.

MENJADI PEMILIH LOYALIS RASIONALIS

Oleh: Bahren Nurdin
(Akademisi UIN STS Jambi dan Dir. Pusakademia)

Saya mencoba untuk menggunakan dua istilah di atas; loyalis dan rasionalis. Saya mencoba memadupadankan dua istilah ini dalam konteks Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Secara harfiah kata ‘loyalis’ diartikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ‘pengikut atau pendukung (pemerintah dan sebagainya) yang setia, dan ‘rasionalis’ berarti ‘orang yang menganut paham rasionalisme’. Maka, pada konteks Pilkada dapat diartikan secara bahasa sebagai pemilih yang loyal tapi tetap rasional. Seperti apa?

Contoh sederhananya ketika kita belanja di pasar tradisional. Saya sering ‘hunting’ ikan sungai di pasar tradisional. Ada banyak pedagang ikan yang menawarkan jenis ikan yang sama. Saya biasanya tidak membeli ikan pada satu pedagang sebelum saya datangi dua atau tiga pedagang lainnya. Selalu mencari perbandingan agar dapat ikan yang saya inginkan dan berkualitas.

Apa yang perlu diperbandingkan? Kualitas ikannya (segar, besar, kecil, hidup, mati dll), harga, cara membersihkannya, layanan penjualnya, dan lain-lain. Ada beberapa pedagang yang sudah saya kenal. Tapi ketika barometer ini tidak terpenuhi, saya tetap memilih membeli ikan di tempat yang lain. Saya akan loyal terhadap satu pedagang selagi ia mampu memenuhi standar produk yang saya inginkan.

Inilah yang saya rumuskan menjadi loyalis rasionalis. Taat dan setia tapi tidak membunuh rasionalisme. Pertimbangan-pertimbangan rasional harus tetap dipelihara agar loyalitas yang dimiliki tidak ‘membabi buta’. Standar-standar objektivitas masih harus dikedepankan dalam menempatkan loyalitas yang dimiliki.

Loyalis rasionalis ini saya rasa juga akan menghindari fanatisme ‘buta’ dan primordialisme ‘kaku’. Fanatisme dan primordialisme sering kali menghancurkan ‘critical thinking’ seseorang. Nilai-nilai kritis sering terkubur dengan istilah yang paling jamak didengar di tengah masyarakat ‘pokoknya’. ‘Pokoknya’ memilih pasangan calon Si A dan Si B walaupun tanpa kualitas dan prestasi apa pun. ‘Pokoknya’!

Sekali lagi, sesungguhnya tidak ada yang salah dengan fanatisme dan primordialisme selagi ditempatkan pada porsinya yang pas. Maka untuk menentukan takarannya, loyalis rasionalis menjadi tawaran yang baik. Artinya, tatap loyal pada pasangan calon yang dipilih tetapi tidak mengabaikan nilai-nilai rasional dan objektivitas. Harus ada pertimbangan-pertimbangan logis mengapa pilihan jatuh pada pasangan calon tersebut.

Hal ini tentunya juga untuk mendapatkan calon pemimpin yang berkualitas untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Ingat, hakikat pemilihan umum itu adalah terpilihnya pemimpin yang berkualitas dan legitimit, serta tercapainya kesejahteraan rakyat dengan percepatan pembangunan di berbagai bidang. Jika para pemilih hanya mengedepankan fanatisme dan primordialisme tanpa sedikit pun memberi ruang pada objectivitas logikanya, dikhawatirkan akan terpilih pemimpin yang ‘abal-abal’.

Harus diakui bahwa untuk menjadi loyalis rasionalis ini memerlukan ‘nyali’ besar. Bagaimana mungkin untuk tidak memilih pasangan calon yang berasal dari daerah yang sama, masih ada hubungan keluarga (primordialisme), atau sudah termakan budi selama ini walaupun tahu persis pasangan calon tersebut tidak memenuhi standar kepemimpinan. Di sinilah nilai-nilai nasionalisme itu dimunculkan. Lihatlah kepentingan yang lebih besar. Kepentingan pembangunan daerah dan bangsa ini. Itulah bentuk pengerobanan yang harus dilakukan. Berani untuk tidak memilih keluarga sendiri jika dinilai akan menyengsarakan rakyat di kemudian hari.

Akhirnya, ibarat pedagang ikan di pasar tradisional, para pasangan calon telah menawarkan produk-produk mereka melalui kampanye-kampanye yang dilakukan. Saatnya masyarakat menentukan pilihan. Untuk mendapatkan ‘poduk’ yang diinginkan, jadilah ‘pembeli’ yang loyal dan rasional. Setialah pada pasangan calon yang dipilih dengan tetap mengedepankan nilai-nilai rasionalisme. Jadilah loyalis rasionalis. Semoga.

Menolak Perlakuan Represif Aparat Terhadap Massa Aksi (Demonstran)

Oleh: Muhammad Aziim (Ketua KAMMI Attahrir Universitas Jambi)

Sebagai respon telah disahkannya Omnibus Law atau Cipta Kerja pada 5 Oktober 2020 lalu, beragam  elemen rakyat mulai dari  mahasiswa, buruh, petani, hingga pelajar mengekspresikan penolakannya. Berseminya gerakan rakyat tersebut dibuktikan dengan adanya gelombang massa aksi  tercipta di berbagai daerah, Tak terkecuali hingga ke hampir seluruh kabupaten dan kota dalam Provinsi Jambi.

Jagat media sosial 2 pekan belakangan pun diramaikan dengan aksi-aksi demonstrasi beberapa titik aksi seperti di Simpang BI, Tugu Juang, Kompleks perkantoran  DPRD dan Gubernur Jambi serta hampir seluruh Kantor DPRD kabupaten kota di Provinsi Jambi.

Namun ditengah proses dinamika gerakan demonstrasi yang murni muncul dari kalangan rakyat ini  justru masih ditemukan sikap represif oleh aparat yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom rakyat itu sendiri.

Bagaimana pun gerakan massa aksi demonstrasi adalah hal yang sah terjadi pada negara demokrasi sebagai bentuk kemerdekaan mengekspresikan diri dan pelaksanaan daripada hak azasi manusia (HAM) itu sendiri. Tanpa kritik maka pemerintahan yang berkuasa akan dengan semena-mena melakukan apa saja.

Namun terlepas dari itu semua, yang terpenting adalah adanya sikap sama-sama melakukan penghormatan antara massa aksi dan aparat yang mengawal massa aksi. Seperti sama-sama tidak melakukan pengerusakan terhadap fasilitas publik atau hal-hal lainnya yang  memang  secara substantif tidak ada dalam agenda aksi. Namun demikian tindakan kontra intelejen  juga tidak bisa kita abaikan, hal yg lumrah  jika ada upaya provokasi serta terselipnya oknum tidak dikenal di tengah barisan massa aksi. Dalam peraturan pengendalian massa(protap) tidak ditemukan pembenaran untuk melakukan tindakan kekerasan oleh aparat terhadap massa aksi.

Harapan kita, kedepannya tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak mengenakkan baik aparat maupun massa aksi. Tentunya para komandan-komandanlah yang "tempur"lah yang bisa saling mengkondisikan suasana. Salam Demokrasi Cerdas dan Bermartabat. Hidup Rakyat, Hidup Mahasiswa...

- Advertisement -

Latest News

Belum Dilintasi Mobil Sisi Ofrit Jembatan Sungai Bakung Sudah Retak-retak

KUALA TUNGKAL (SR28) – Peningkatan Jembatan Parit Bakung Kecamatan Sebrang Kota, Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang dikerjakan...
- Advertisement -

Pembangunan Jalan Kelurahan Tungkal Harapan Asal Jadi, Baru Seumur Jagung Sudah Retak dan Berlubang

KUALA TUNGKAL (SR28) – Pembangunan jalan atau peningkatan skala di kawasan Kelurahan Tungkal Harapan, Kecamatan Tungkal Ilir, KabupatenTanjung Jabung Barat oleh Dinas...

Sriwijaya Air Wajib Ganti Rugi Rp1,25 M per Penumpang SJ182

JAKARTA - Keluarga korban kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 berhak atas ganti rugi dari pihak maskapai. Hal tersebut mengacu pada Pasal 141 ayat (1)...

Besok Divaksin, Begini Kondisi Kesehatan Jokowi

JAKARTA - Sekretariat Presiden memastikan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menjalani vaksinasi Covid-19 pada Rabu (13/1) besok di Istana Kepresidenan Jakarta....

Ini Pertimbangan Hakim Tolak Praperadilan Habib Rizieq

JAKARTA - Hakim Akhmad Sahyuti menolak gugatan praperadilan yang diajukan Habib Rizieq Shihab terkait penetapan tersangka kasus pelanggaran kekarantinaan kesehatan dan penghasutan kerumunan di Petamburan, Tanah...