Sabtu, Februari 27, 2021

Menolak Perlakuan Represif Aparat Terhadap Massa Aksi (Demonstran)

Must Read

Lagi-Lagi Salah Satu Keluarga Datuk Rio Teluk Kecimbung Berulah, Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Remaja

BUNGO (SR28) - Kasus Pelecehan yang dilakukan oleh WR adik sepupu Datuk Rio Teluk Kecimbung, Kecamatan Tanah Tumbuh, Kabupaten...

Terungkap, Alasan Tersembunyi Xi Jinping Melawan Jack Ma

Beijing - Presiden China Xi Jinping, dikabarkan...

Oleh: Muhammad Aziim (Ketua KAMMI Attahrir Universitas Jambi)

Sebagai respon telah disahkannya Omnibus Law atau Cipta Kerja pada 5 Oktober 2020 lalu, beragam  elemen rakyat mulai dari  mahasiswa, buruh, petani, hingga pelajar mengekspresikan penolakannya. Berseminya gerakan rakyat tersebut dibuktikan dengan adanya gelombang massa aksi  tercipta di berbagai daerah, Tak terkecuali hingga ke hampir seluruh kabupaten dan kota dalam Provinsi Jambi.

Jagat media sosial 2 pekan belakangan pun diramaikan dengan aksi-aksi demonstrasi beberapa titik aksi seperti di Simpang BI, Tugu Juang, Kompleks perkantoran  DPRD dan Gubernur Jambi serta hampir seluruh Kantor DPRD kabupaten kota di Provinsi Jambi.

Namun ditengah proses dinamika gerakan demonstrasi yang murni muncul dari kalangan rakyat ini  justru masih ditemukan sikap represif oleh aparat yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom rakyat itu sendiri.

Bagaimana pun gerakan massa aksi demonstrasi adalah hal yang sah terjadi pada negara demokrasi sebagai bentuk kemerdekaan mengekspresikan diri dan pelaksanaan daripada hak azasi manusia (HAM) itu sendiri. Tanpa kritik maka pemerintahan yang berkuasa akan dengan semena-mena melakukan apa saja.

Namun terlepas dari itu semua, yang terpenting adalah adanya sikap sama-sama melakukan penghormatan antara massa aksi dan aparat yang mengawal massa aksi. Seperti sama-sama tidak melakukan pengerusakan terhadap fasilitas publik atau hal-hal lainnya yang  memang  secara substantif tidak ada dalam agenda aksi. Namun demikian tindakan kontra intelejen  juga tidak bisa kita abaikan, hal yg lumrah  jika ada upaya provokasi serta terselipnya oknum tidak dikenal di tengah barisan massa aksi. Dalam peraturan pengendalian massa(protap) tidak ditemukan pembenaran untuk melakukan tindakan kekerasan oleh aparat terhadap massa aksi.

Harapan kita, kedepannya tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak mengenakkan baik aparat maupun massa aksi. Tentunya para komandan-komandanlah yang “tempur”lah yang bisa saling mengkondisikan suasana. Salam Demokrasi Cerdas dan Bermartabat. Hidup Rakyat, Hidup Mahasiswa…

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Lagi-Lagi Salah Satu Keluarga Datuk Rio Teluk Kecimbung Berulah, Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Remaja

BUNGO (SR28) - Kasus Pelecehan yang dilakukan oleh WR adik sepupu Datuk Rio Teluk Kecimbung, Kecamatan Tanah Tumbuh, Kabupaten...

Terungkap, Alasan Tersembunyi Xi Jinping Melawan Jack Ma

Beijing - Presiden China Xi Jinping, dikabarkan langsung turun tangan dalam menjinakkan...

Ekonomi Jerman tumbuh 0,3% pada kuartal ke-4, lebih baik dari perkiraan

Statistik resmi menunjukkan bahwa ekonomi Jerman tumbuh 0,3% pada kuartal keempat tahun lalu dibandingkan dengan periode tiga bulan sebelumnya - kinerja yang lebih baik...

Ulang tahun ke-48, Solskjaer dianugerahi pertandingan Man United vs AC Milan: sepak bola

MANCHESTER - Manajer Manchester United, Ole Gunner Solskjer, genap berusia 48 tahun pada Jumat 26 Februari 2021. Pada saat yang sama, pengundian babak 16...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -